Tampilkan postingan dengan label Teladan Berkata-Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teladan Berkata-Kata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 September 2013

Makian dan Pujian - Pohon yg kehilangan rohnya


Ada satu kebiasaan unik yang ditemui pada penduduk asli yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan.   Penduduk asli yang tinggal di sana mempunyai sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon.

Untuk apa ?
Kebiasaan ini dilakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Tujuannya supaya pohon itu segera mati.

Caranya ?
Beberapa penduduk yang kuat dan berani memanjat hingga ke atas pohon itu.  Ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka bersama-sama berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam dalam sehari.  Hal ini dilakukan terus menerus selama kurang lebih empat puluh hari.

Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga akan mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk asli ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.

Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Hal ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Bahwa setiap kali kita meneriaki makhluk hidup, maka berarti kita sedang mematikan rohnya. 


Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda ?
"Ayo cepat !"
"Dasar lelet !"
"Bego banget sih !"
"Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan?"
"Berisik !"


Pernahkan Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati ?
"Saya menyesal menikah dengan orang seperti kamu !"
"Kurang ajar !"
"Bodoh, perempuan kampungan !"

Jika Anda seorang guru, pernahkah Anda memaki anak didik ?
"Tolol ! Soal mudah begitu saja tidak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter ?"
"Dasar anak nakal !"

Jika Anda seorang atasan, pernahkah Anda berteriak kepada bawahan saat merasa kesal ?
"Karyawan seperti  kamu banyak di luar sana.  Kalau resign, ada 1000 orang yang antri mengisi jabatanmu !"
"Kerja begini saja tidak becus ? Rugi saya menggaji kamu?

Ada banyak perkataan makian yang dapat kita lontarkan.
Ingatlah !
Dari kebiasaan penduduk Solomon kita belajar bahwa setiap kali kita berteriak memaki seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka dan sebagainya,maka berarti kita sedang membunuh orang tersebut perlahan-lahan.  Kita sedang mematikan roh orang tersebut.  

Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan yang kita keluarkan karena emosi kita, perlahan-lahan pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan.

Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan ? Tujuannya supaya orang yang jauh itu mendengar.  Kalau kita berteriak pada orang yang jaraknya dekat, orang tersebut akan menjadi marah dan akan membalas berteriak.  Teriakan itu membuat hubungan kita yang dekat menjadi jauh. Tanpa sadar akhirnya kita pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi hanya karena perasaan-perasaan dendam,benci atau kemarahan yang kita miliki.

Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu.
Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan.
Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.

Damai di hati, damai di bumi.


Selasa, 28 Mei 2013

Cara Menyampaikan Pesan

Suatu hari, seorang tukang kayu yang buta huruf menerima sepucuk surat. Karena ia buta huruf, maka ia tergesa-gesa menuju ke rumah temannya, si penjual daging, yg punya watak keras untuk minta tolong membacakan surat.

"Ini surat dari putramu !", seru Si Tukang Daging. "Dengar, begini bunyinya ! Ayah aku sakit dan tidak punya uang sesenpun, tolong kirimkan aku sejumlah uang sesegera mungkin.
Putramu".


Si Tukang Daging membacakan surat itu dengan keras dan kasar. Si Tukang Kayu menjadi marah, dan berkata, "Dasar anak tak tahu diri ! Memangnya dia siapa memerintah aku, ayahnya? Jangan harap aku akan mengirimi dia uang se-sen pun !"

Dalam kemarahannya ia pulang kembali ke rumahnya.
Di perjalanan ia bertemu sahabatnya, Si Penjahit yang bersuara lembut.

Si Tukang Daging bercerita tentang isi surat tersebut kepada Si Penjahit.
"Ini suratnya, cobalah engkau membaca surat putraku ini.  Sungguh sangat tidak tahu sopan santun ia sekarang".

Si penjahit pun lalu membaca surat itu dengan suaranya yang lembut, tenang, dan jelas.

Sambil mendengar Si Penjahit membacakan surat itu, Si Tukang Kayu itu  menjadi sedih.  Tiba-tiba surat itu berbunyi sangat lain.

"Oh anakku malang!", katanya dengan cemas.
"Ia pasti sangat menderita, lebih baik aku segera mengirimnya uang sekarang juga"

Dengan bergegas Si Tukang Kayu menuju rumahnya.  Ia ingin segera mengirimkan uang untuk anaknya yang sedang sakit di tempat yang jauh. 

------------ REFLEKSI

Pesan sangat tergantung pada cara penyampaiannya.  Dengan kalimat yang sama namun disampaikan dengan intonasi dan intensitas suara yang berbeda, akan menghasilkan pesan yang berbeda pula.

Bila kita renungkan, konflik yang sering terjadi antara pasangan, sahabat, saudara, rekan kerja, dan lainnya, seringkali bukan karena ada masalah besar dan rumit yang tidak bisa dipecahkan.  Namun karena kita tidak dapat mengatur cara menyampaikannya.

Emosi  membuat kita menyampaikan pesan dengan keras dan bisa-bisa menjadi kasar, terutama saat kita tidak setuju.  Kalau kita menyampaikannya dengan sikap lebih sabar, ramah, lembut, maka yang mendengarnya akan mudah menerima dan tidak akan terjadi pertentangan.

Mari kita belajar untuk menggunakan pilihan kata-kata yang baik, dengan intonasi yang baik dan sikap yang lebih baik lagi, sehingga pesan yang disampakan bisa sampai dengan baik dan memberi dampak yang baik bagi yang menyampaikan pesan dan yang menerima pesan tersebut.  Sehingga ketika ada masalah pun, dapat memberi hasil (solusi) yang lebih baik.


Rabu, 03 April 2013

Kekuatan Kata-Kata

Jenderal Horace Potter pernah menulis tentang percakapannya dengan Jenderal Ulysses Grant, pada suatu malam saat mereka duduk santai di  dekat spi unngun.
Di bawah ini adalah cuplikan dari percakapan mereka yang dituliskan oleh Jenderal Potter.

"Jenderal Ulysses, Anda luar biasa sekali. Walau Anda dididik dalam kekerasan militer, dan selalu menghadapi kekerasan dalam tugas di garis depan, Anda tidak terpancing untuk mengumpat dan berkata-kata kasar. Saya tidak pernah melihat Anda mengucapkan jars-kata kasar sekalipun. Mengapa demikian ?" tanya Jenderal Potter.

Jenderal Grant menjawab, "Saya tidak mau membiasakan mengumpat. Sejak remaja saya tidak pernah melakukannya.  Ketika saya dewasa, saya menganggap bahwa mengumpat adalah sebagai salah satu tindakan kebodohan."

Jenderal Grant menambahkan lagi, "Kata-kata kasar membangkitkan amarah diri kita sendiri, dan menyulutkan kemarahan orang lain.  Saya tidak pernah melihat kehidupan yang berkualitas dari seorang pemarah.  Selain lemah dan rapuh dari segi spiritual, seorang pemarah menghilangkan banyak kesempatan.  Seorang pemarah berperang melawan dirinya sendiri.  Sekalipun ia menang, ia juga hancur.  Tidak ada yang lebih buruk daripada seorang yang bangkit amarahnya sampai ia tidak dapat menguasai dirinya. "

Demikianlah tulisan Jenderal Potter tentang bincang-bincangnya dengan Jenderal Grant.


CATATAN
Ulysses S. Grant (lahir dengan nama Hiram Ulysses Grant, April 27, 1822 - 23 Juli 1885) adalah Presiden Amerika Serikat yang ke - 18(1.869-1.877). Ia merupakan jenderal perang yang sangat sukses pada Perang Saudara.

Sebagai jenderal perang ia berhasil memimpin Union Army mengalahkan militer Konfederasi. Sebagai presiden dia memimpin Partai Republik Radikal dalam upaya mereka untuk menghilangkan semua sisa-sisa nasionalisme Konfederasi dan perbudakan. Ia tidak menyukai kekerasan dan sangat menentang gerakan Ku Klux Klan dan selalu berusaha untuk melindungi hak-hak warna Afrika Amerika. Presiden Grant efektif menghancurkan Ku Klux Klan pada tahun 1871.

-------------

Tulisan dari sumber lain yang tidak diketahui pencetusan gagasannya mengatakan demikian :
Satu kata yang kasar dapat menumbuhkan kuntum kebencian
Satu kata yang dilontarkan tanpa kontrol diri dapat membuat kekacauan.
Satu kata yang tidak sopan dan tidak ramah dapat membuat cinta menjadi hambar.
Namun,
Satu kata maaf bisa melahirkan cinta yang mendalam bagi orang yang mendengarnya.
Satu kata lembut dan tulus dapat membuat kedamaian bagi orang lain
Satu kata pujian dapat memberi semangat bagi yang mendengarnya
Jadi,
Satu kata bisa menjadi kutuk juga bisa menjadi berkat bagi diri kita sendiri dan orang lain

Don't say anything, if you don't have anything nice to say

-----------

Pada saat marah, kita telah kalah,
Pada saat membenci, kita telah terkunci
Pada saat mendendam, kita telah menjadi tawanan.

Janganlah amarahmu merusak kehidupan dan masa depanmu
Jadilah orang yang sabar dan bijaksana