Rabu, 08 Mei 2013

Impian Seorang Mahasiswi

Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah.


Ia menyapa, "Halo anak manis, namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku?"
Saya tertawa dengan antusias menyambutnya, "Tentu saja boleh!".

Diapun memberi saya pelukan yang sangat erat.

"Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok.
Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."
"Ah yang serius?" tanya saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya.

"Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya!" katanya.

Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab. Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagai pengalaman dan kebijaksanaannya.

Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami.

Dia diperkenalkan dan naik ke podium.
Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon.
Dengan ringan berkata, "Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir, tetapi wiski ini membunuh saya.  Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

Saat kami tertawa dia membersihkan kerongkongannya dan memulai pidatonya.


"Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua.  Kita menjadi tua karena kita berhenti bermain.  Ada rahasia untuk tetap awet muda, tetap bahagia, dan meraih sukses .
Rahasia itu adalah : Kamu harus tertawa dan menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi, karena bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, sama artinya kamu mati.
Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun tidak menyadarinya !"

Ia berhenti sejenak, dan kembali melanjutkan pidatonya
"Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa.  Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun.
Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan.
Setiap orang pasti menjadi tua.  Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat.
Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan. Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat.
Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose".
Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu.
Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai.

Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan.

Ingatlah, menjadi tua adalah keharusan, menjadi dewasa adalah pilihan.

Sabtu, 04 Mei 2013

Berbeda Sudut Pandang

Seorang gadis kecil asyik bermain di lantai.  Di sebelahnya, ibunya duduk di kursi sedang menyulam sehelai kain.  Ketika anak kecil itu menengadah ke atas, ia tertarik melihat apa yang dikerjakan ibunya.  Benang beraneka warna disulamkan di atas sehelai kain.  Ia tertarik dengan warna-warni benang itu, tetapi tidak mengerti untuk apa ibunya membuat sulaman itu.  Baginya, ibunya sedang membentuk sulaman-sulaman ruwet dari benang berwarna-warni. 

          "Apa yang sedang Ibu lakukan ?” tanya anak kecil itu kepada ibunya.

“Ibu sedang menyulam sebuah taplak meja, Sayang.  “ jawab ibunya sambil tetap melanjutkan sulamannya.

“Mengapa sulaman Ibu kali ini sangat semrawut.  Taplak meja kita yang Ibu sulam selalu indah.” kata gadis kecil itu lagi.


Ibunya tersenyum memandang anaknya dan berkata lembut, "Anakku, lanjutkanlah permainanmu.  Nanti setelah selesai, aku akan memanggilmu untuk melihat hasilnya.”
Si Ibu melanjutkan kembali pekerjannya. 

Gadis kecil itu kembali bermain, tetapi di dalam hatinnya masih penuh tanda tanya. Mengapa ibunya menggunakan benang berwarna – warni yang indah, tetapi mengapa ibunya menyulamnya dengan begitu semrawut.  Sesekali ia mencuri pandang, tetapi ibunya tetap menyulam, yang menurut pandangannya sangat semrawut. 

Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara ibunya memanggil, "Anakku, mari kesini dan duduklah di pangkuan ibu."

 Dengan rasa tidak sabar, gadis kecil itu berlari ke pangkuan ibunya.  Dan apa yang dilihatnya ?  Beraneka warna bunga-bunga, kupu-kupu, dengan latar belakang pemandangan dan matahari yang indah sekali.  Berbeda sekali dengan apa yang dilihatnya ketika ia melihat dari lantai, ibunya menyulamnya dengan sangat rapi dan teratur. 

             “Ibu, indah sekali ! kata si gadis kecil dengan terkagum-kagum.  “Berbeda sekali dengan apa yang aku lihat tadi dari balik sulaman ini.” Kata si gadi kecil sambil membalik sulaman itu dan menunjukkan pada ibunya apa yang dia lihat tadi dari lantai.

               Dengan tersenyum ibunya berkata, “Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola.  Ibu menyulam sedikit demi sedikit mengikuti pola yang sudah direncanakan itu.  Ibu menyulamnya dengan hati-hati agar menghasilkan sulaman yang indah dan rapi. Sekarang, dengan melihatnya dari atas, kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan, apa yang ingin ibu hasilkan. 

------ Refleksi


 
Seringkali di dalam hidup kita, kita bertanya mengapa hidup yang kita jalani begitu rumit, ruwet dan penuh permasalahan.  Seringkali kita mempertanyakan kepada Tuhan : 

"Ya Tuhan, mengapa hidupku begini.  Apa yang rencanaMU dalam hidupku ?"
“Mengapa aku mengalami banyak permasalahan seperti ini”

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul di benak kita. 

Tuhan sedang menyulam kehidupan kita.  Mungkin saat ini kita tidak mengerti.  Hidup kita penuh permasalahan dan keruwetan.  Kita tidak mengerti apa maksud Tuhan membuat semuanya itu terjadi di dalam kehidupan kita.  Rencana kita bukan rencana Tuhan, jalan kita bukan jalan Tuhan.

Tuhan sudah merencakan pola hidup kita. Tuhan sudah memiliki rencana yang baik bagi kita.  Terkadang kita tidak mengerti, terutama bila jalan hidup yang kita tempuh terasa sulit, penuh keruwetan dan permasalahan.  Kita tidak dapat memandang indahnya sulaman Tuhan dalam hidup kita.  
Satu hal yang perlu kita tanamkan di hati, bahwa rencana Tuhan tidak pernah rencana yang buruk.  Mungkin kita tidak bisa melihatnya sekarang, bisa jadi itu baru kita mulai dapat sedikit demi sedikit memahaminya kemudian. 

Suatu saat nanti, ketika IA memanggil kita ke sorga dan mendudukkan kita di pangkuanNYA, mungkin barulah kita dapat memahami dan dapat melihat rencanaNYA yang indah bagi kita.   Ketika saat itu tiba, kita dapat memandang dengan cara yang sama . 

Rabu, 03 April 2013

Kekuatan Kata-Kata

Jenderal Horace Potter pernah menulis tentang percakapannya dengan Jenderal Ulysses Grant, pada suatu malam saat mereka duduk santai di  dekat spi unngun.
Di bawah ini adalah cuplikan dari percakapan mereka yang dituliskan oleh Jenderal Potter.

"Jenderal Ulysses, Anda luar biasa sekali. Walau Anda dididik dalam kekerasan militer, dan selalu menghadapi kekerasan dalam tugas di garis depan, Anda tidak terpancing untuk mengumpat dan berkata-kata kasar. Saya tidak pernah melihat Anda mengucapkan jars-kata kasar sekalipun. Mengapa demikian ?" tanya Jenderal Potter.

Jenderal Grant menjawab, "Saya tidak mau membiasakan mengumpat. Sejak remaja saya tidak pernah melakukannya.  Ketika saya dewasa, saya menganggap bahwa mengumpat adalah sebagai salah satu tindakan kebodohan."

Jenderal Grant menambahkan lagi, "Kata-kata kasar membangkitkan amarah diri kita sendiri, dan menyulutkan kemarahan orang lain.  Saya tidak pernah melihat kehidupan yang berkualitas dari seorang pemarah.  Selain lemah dan rapuh dari segi spiritual, seorang pemarah menghilangkan banyak kesempatan.  Seorang pemarah berperang melawan dirinya sendiri.  Sekalipun ia menang, ia juga hancur.  Tidak ada yang lebih buruk daripada seorang yang bangkit amarahnya sampai ia tidak dapat menguasai dirinya. "

Demikianlah tulisan Jenderal Potter tentang bincang-bincangnya dengan Jenderal Grant.


CATATAN
Ulysses S. Grant (lahir dengan nama Hiram Ulysses Grant, April 27, 1822 - 23 Juli 1885) adalah Presiden Amerika Serikat yang ke - 18(1.869-1.877). Ia merupakan jenderal perang yang sangat sukses pada Perang Saudara.

Sebagai jenderal perang ia berhasil memimpin Union Army mengalahkan militer Konfederasi. Sebagai presiden dia memimpin Partai Republik Radikal dalam upaya mereka untuk menghilangkan semua sisa-sisa nasionalisme Konfederasi dan perbudakan. Ia tidak menyukai kekerasan dan sangat menentang gerakan Ku Klux Klan dan selalu berusaha untuk melindungi hak-hak warna Afrika Amerika. Presiden Grant efektif menghancurkan Ku Klux Klan pada tahun 1871.

-------------

Tulisan dari sumber lain yang tidak diketahui pencetusan gagasannya mengatakan demikian :
Satu kata yang kasar dapat menumbuhkan kuntum kebencian
Satu kata yang dilontarkan tanpa kontrol diri dapat membuat kekacauan.
Satu kata yang tidak sopan dan tidak ramah dapat membuat cinta menjadi hambar.
Namun,
Satu kata maaf bisa melahirkan cinta yang mendalam bagi orang yang mendengarnya.
Satu kata lembut dan tulus dapat membuat kedamaian bagi orang lain
Satu kata pujian dapat memberi semangat bagi yang mendengarnya
Jadi,
Satu kata bisa menjadi kutuk juga bisa menjadi berkat bagi diri kita sendiri dan orang lain

Don't say anything, if you don't have anything nice to say

-----------

Pada saat marah, kita telah kalah,
Pada saat membenci, kita telah terkunci
Pada saat mendendam, kita telah menjadi tawanan.

Janganlah amarahmu merusak kehidupan dan masa depanmu
Jadilah orang yang sabar dan bijaksana

Minggu, 30 Desember 2012

Jangan Menyerah

Florence Chadwick adalah perenang wanita yang berambisi untuk menyeberangi selat Catalina sejauh 26 mil. 

Hari itu, tampak hamparan es dan kabut yang begitu tebal ketika Florence memulai perjuangannya. Namun ia tetap pada keinginannya, dan ia mulai berenang

Setelah hampir 16 jam berjuang, Florence menatap ke depan, namun ia hanya melihat kabut tebal. Ia tak dapat melihat daratan, dan akhirnya memutuskan untuk menyerah. Ia berhenti. Florence tidak mengira bahwa ternyata di balik kabut itu, daratan yang menjadi tujuan akhirnya hanya tinggal setengah mil lagi.

Sumber Gambar : Daily Mail


Setelah kemudian mengetahui hal itu, betapa menyesalnya ia karena menyerah justru di saat ia hampir berhasil. Florence menyerah bukan karena dinginnya air laut, dan bukan pula karena merasa kelelahan. Ia menyerah karena ia KEHILANGAN TUJUAN-NYA.

MELIHAT TUJUAN adalah hal PENTING bagi sebagian orang. Namun TUHAN ingin kita bukan HIDUP karena MELIHAT tapi HIDUP karena PERCAYA. Sehingga bila kabut kehidupan membuat tujuan kita terlihat kabur dan samar-samar, kita tetap PERCAYA dan mengandalkan hidup padaNYA dan terus MELANGKAH.

Jika kita sudah begitu jauh melangkah, PERCAYALAH bhw kemenangan sudah ada di depan mata. Jangan pernah menyerah dan berhenti melangkah.
INGATLAH seberapa KERAS kita telah BERJUANG. Tetaplah bersemangat dan percaya bahwa di suatu titik, di balik kabut itu ada kemenangan kita.

SELESAIKANLAH dengan baik apa yang telah kita MULAI.
JANGAN MENYERAH hanya karena kabut yang menutupi pandangan kita.

Sabtu, 15 Desember 2012

Bersyukur Tanpa Membandingkan



 
Seekor siput yang suka berkeluh kesah merambat perlahan membawa cangkangnya. Ketika ia melihat seekor katak melompat-lompat di sampingnya, ia pun kembali berkeluh kesah.

Sang katak yg sudah seringkali mendengar keluh kesah siput, kehilangan kesabaran dan akhirnya berkata kepada siput,
"Tuan Siput, apakah saya telah melakukan kesalahan, sehingga Anda begitu membenci saya?"
Siput menjawab: "Kalian kaum katak mempunyai empat kaki dan bisa melompat ke sana ke mari, sedangkan saya harus selalu membawa cangkang yang berat ini, merangkak di tanah. Ini tidak adil."

Katak menjawab, "Setiap kehidupan memiliki penderitaannya masing-masing. Kamu hanya melihat kegembiraan saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan kami kamu katak."

Ketika mereka sedang berbicara, tiba-tiba seekor elang besar terbang ke arah mereka. Siput dengan cepat memasukan badannya ke dalam cangkangnya, sedangkan katak yang tak sempat bersembunyi, dimangsa oleh elang...

Siput terdiam dan terhenyak... Ia tersadar... Ternyata cangkang yang selama ini harus dibawa-bawanya kemanapun ia pergi, telah menyelamatkan nyawanya. Setelah kejadian itu, ia tidak lagi menganggap cangkangnya sebagai beban. Sekarang ia berjalan dengan gembira, menikmati setiap langkahnya yang perlahan dengan sukacita. Dan ia pun tidak lagi merasakan beratnya cangkang itu.
----------
Refleksi diri :
Seringkali kita merasa orang lain lebih beruntung, lebih baik dan memiliki banyak kelebihan yang tidak kita miliki. Kita membandingkan..... Rumput di pekarangan tetangga selalu terlihat lebih hijau daripada di pekarangan sendiri.

Marilah menikmati kehidupan kita, tanpa membandingkan dengan orang lain. Hal itu akan menyebabkan munculnya iri hati dan tidak mampu bersyukur.

Rejeki tidak selalu berupa emas, permata, rumah mewah, mobil, atau uang yang banyak.
Rejeki yang sesungguhnya adalah jiwa dan hati yang tenang, karena ketenangan dan kebahagiaan itu sangat mahal sekali ...
Bukan kebahagiaan yang menjadikan kita berSYUKUR tetapi berSYUKURlah maka kita akan menjadi BAHAGIA.

Anak Panah di Tangan Tuhan

Pernahkah engkau mengalami suatu keadaan yang membuat hidupmu seperti ditarik mundur, jauh dari harapan?
Pernahkah engkau melihat orang-orang yang dulunya berapi-api tiba-tiba seperti kehilangan semangat bahkan lenyap dari peredaran?
Pernahkan engkau melihat atau bahkan merasakan bahwa orang-orang yang pernah kau lihat (atau bahkan dirimu sendiri) mengalami kemunduran itu, lalu tiba-tiba melesat cepat ke depan dan meraih banyak hasil?
Seandainya pernah, engkau tidak sendirian. Ada banyak orang yang pernah mengalami hal seperti itu, diantaranya adalah saya.  
 
Sumber Gambar : antaranews.com 
 
Kita seperti anak panah di tangan Tuhan..!
Tuhan yang tahu ke manakah anak panah itu akan diarahkanNYA
Tuhan yang tahu seberapa jauh IA mesti menarik ke belakang anak panah itu agar dapat melesat menuju sasaran yang tepat.

Ada masa-masa ketika anak panah itu melesat cepat terlepas dari busurnya menuju sasaran yang dimaksudkan.
Ada masanya anak-anak panah itu harus istirahat dalam kantong-Nya.
Namun di saat yang diperlukan, anak panah itu akan dipasang dalam busur-Nya ditarik kebelakang, kemudian dilesatkan sejauh mungkin untuk mencapai suatu sasaran.
Semakin jauh tarikannya, semakin jauh pula jarak yang akan ditempuh.
Semakin panjang rentang busur menarik ancang-ancang, makin cepat pula anak panah itu melesat.

Karena itu,
Jika engkau seperti dalam keadaan yang mundur, bersabarlah. Tuhan tengah meletakkanmu di busur-Nya.
Menarikmu jauh-jauh ke belakang, agar di saat engkau dilepaskan, kau memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai sasaran.

Dan jika engkau melihat seorang teman seperti tengah mengalami kemunduran, jangan buru-buru menghakimi dengan mengatakan, "Apinya telah padam."
Jadilah teman yang baik, yang mendampinginya saat ia sedang "dimundurkan", karena dengan demikian kau ikut menjaganya agar tidak sampai putus asa dan terkulai.

Kamu, aku, dia, mereka... adalah anak-anak panah ditangan Tuhan.
Hidup kita adalah untuk mencapai suatu sasaran yang sudah ditetapkan oleh Sang Pemanah.
Tetaplah bersabar dan tetaplah kobarkan semangatmu. Percayalah padaNYA, karena semua akan indah pada waktunya.

Jumat, 15 Juni 2012

Belajar dari Rajawali

Rajawali adalah seekor burung yang seringkali digunakan sebagai simbol kekuatan, keperkasaan dan daya tahan.Seekor rajawali dewasa memiliki tinggi badan sekitar 90 cm, dan bentangan sayap sepanjang 2m. Ia membangun sarangnya di puncak-puncak gunung. Sarang itu sangat besar sehingga manusia pun dapat tidur di dalamnya. Sarang itu beratnya bisa mencapai 700 kg dan sangat nyaman.

Di sarangnya, di atas puncak gunung yang tinggi itulah telur rajawali menetas.Seperti layaknya bayi-bayi lainnya (baik bayi hewan maupun bayi manusia), maka yang dapat dilakukan seekor bayi rajawali adalah makan dan tidur. Bayi rajawali akan menghabiskan masa-masa pertamanya di dunia di dalam sarangnya yang nyaman.
Setiap hari, induk rajawali mencarikan makanan untuk bayinya dan menyuapi mulut bayi yang sudah terbuka untuk menerima makanan. Dengan perut yang sudah kenyang, bayi rajawali akan tidur kembali.Tubuhnya bertambah besar dan gemuk. Hal itu berlangsung berulang-ulang dalam hidupnya. Siklus ini berjalan dalam beberapa minggu.

Ketika masa pendewasaan tiba, si anak rajawali harus belajar terbang agar dapat berburu mencari makanannya sendiri. Berbeda dengan beberapa ciptaan Tuhan lainnya, rajawali tidak dikaruniai naluri untuk dapat terbang dan berburu dengan sendirinya.  Tetapi, rajawali dikarunia naluri untuk meniru. Anak rajawali belajar terbang dengan mengamati induknya dan belajar mencoba dan berlatih meniru apa yang dilakukan oleh induknya.

Kira-kira berumur 8 - 10 minggu, bulu-bulu lembutnya akan berganti dengan bulu-bulu untuk terbang. Sang induk memulai pelajaran terbang dengan mengepak-ngepakkan sayapnya di sarangnya dengan lebar-lebar.  Angin yang ditimbulkan oleh kepakan sayap induk rajawali tersebut membuat anak rajawali sedikit terangkat naik beberapa inchi dari dasar sarang.  Kemudian si anak meniru mengepak-ngepakkan sayapnya seperti apa yang dilakukan oleh induknya.  Inilah pelajaran terbang yang pertama bagi ‘penerbang pemula’ itu.

Hal seperti ini berlangsung berulang-ulang. Tahap berikutnya adalah pelajaran di luar sarang.

Sang induk tidak lagi memberi makanan kepadanya. Untuk membujuk si anak keluar dari ‘zona nyamannya’ di dalam sarang, sang induk terbang di sekitar sarang sambil membawa makanan yang lezat.  Sepotong daging kelinci digenggam di dalam cakarnya, tetapi tidak diberikan kepada sang anak. Ini adalah bujukan halus, tidak seperti mitos popular yang mengatakan bahwa sang induk akan mendorong si anak untuk terpaksa mencoba terbang saat terjatuh dari sarang.

Kini si anak sendiri dalam sarangnya. Tiap kali induknya datang mendekat, tidak lagi membawa makanan di paruhnya. Meski ia berteriak, tetapi induknya tidak kunjung memberikan makanan kepadanya dan berlalu begitu saja. Anak rajawali menjadi kelaparan dan kurus. Ia mencoba bertahan dengan memakan dari sisa-sisa makanan yang mengering di sekitar sarang. Ketika melihat serangga-serangga, sang anak mulai memakannya karena lapar. Inilah pelajaran pertamanya dalam membunuh.

Anak rajawali semakin kurus karena kehilangan lemak tubuhnya. Tubuhnya semakin ringan. Ketika ia mengepakkan sayapnya, ia mulai dapat ‘terbang; sedikit lebih jauh, mulai dapat mencapai tepi sarang.

Semakin lama otot-otot sayap semakin kuat dan tubuhnya semakin ringan. Pelahan anak rajawali mulai belajar terbang dengan mencoba naik ke dahan pohon di dekat sarangnya dan mencoba terbang mencapai sarang. Berulang-ulang dilakukan, bisa memakan waktu berbulan-bulan. Semakin hari semakin mahir dan semakin dapat terbang lebih tinggi dan lebih jauh. Mulanya hanya dapat terbang dari dahan terdekat ke sarang, kemudian dari dahan yang lebih jauh ke sarang.

Selama masa latihan ini, tidak jarang anak rajawali yang jatuh dan terluka, bahkan mati. Induk rajawali kembali merawat dan memberi makan kepada anaknya yang terluka, sampai sang anak kembali sehat dan bisa memulai pelajaran terbangnya lagi. Biasanya antara 4 – 6 bulan, anak rajawali sudah dapat terbang tanpa disupervisi, tetapi masih belajar terbang di sekitar sarang. Ketika sudah mahir, barulah anak rajawali terbang jauh.


----------

Perenungan :

Seringkali kita lebih memilih tinggal di zona nyaman dan enggan mencoba sesuatu hal yang baru karena dipenuhi kekuatiran. Kuatir gagal, kuatir menderita dan banyak kekuatiran lain.  Padahal di balik setiap kesulitan, ketika kita sudah berhasil mengatasinya akan banyak yang kita dapatkan. 

Seandainya anak rajawali tidak pernah belajar terbang maka ia tidak akan pernah jatuh.   Berada di dalam sarangnya berarti harus puas hanya makan serangga-serangga kecil yang berkeliaran di dekat sarangnya, dan tidak akan pernah tahu enaknya daging kelinci dan makanan lainnya.  Ia juga tidak akan pernah tahu indahnya gunung, laut dan hutan jika dipandang dari atas langit. Sayapnya tidak akan pernah menjadi kokoh, dan paruhnya tak akan pernah terasah.  Ia akan menjadi burung biasa, dan bukan rajawali yang perkasa.