Pada suatu malam, seorang buta berjalan di jalan yang gelap. Ia memegang sebuah lentera di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang tongkat.
Dua orang anak muda yang melihatnya segera mentertawainya. Salah seorang dari anak muda itu bertanya sambil menahan tawa, "Buat apa lampu itu, Bapak Tua, engkau kan buta ?"
"Dasar bodoh," sahut anak muda yang satunya sambil tertawa terbahak-bahak mentertawai si orang buta.
Si orang buta berhenti berjalan dan berkata kepada dua anak muda tadi, "Lampu ini bukan untuk menerangi jalanku, karena dengan lampu ini pun aku tidak melihat apa-apa. Lampu ini untuk menerangi jalan orang lain agar tidak menabrak aku atau ketika berjalan di dekatku mereka dapat melihat jalan yang dilaluinya dengan sedikit lebih terang."
Kedua anak muda terdiam seketika dan merasa malu.
--------------
Refleksi diri :
Seringkali kita melakukan sesuatu hanya berfokus pada diri sendiri, sehingga terkadang kita pun berpikir orang lain akan melakukan hal yang sama dengan yang kita pikirkan.
Sama seperti kedua anak muda tadi, berpikir bahwa si orang buta hanya berpikir untuk dirinya sendiri saja, padahal si orang buta berpikir pada kepentingan orang lain juga.
Kita diingatkan untuk tidak jemu-jemu berbuat baik, karena sesungguhnya di saat kita melakukan sesuatu untuk orang lain, sebenarnya kita juga sedang melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri. Apa yang kita lakukan untuk orang lain, suatu saat pasti akan kembali pada diri kita, karena itu marilah kita tekun dalam berbuat baik.
Banyak cerita-cerita yang beredar dan sampai padaku. Terkadang aku tak tahu asalnya dari mana dan siapa pengarangnya, tetapi banyak kisah yang bermakna yang sayang bila hanya terlewat begitu saja. Karena itu, kukumpulkan dalam blog ini. Semoga cerita dan kisah di dalam blog ini bisa menjadi berkat buat setiap pembacanya
Tampilkan postingan dengan label Berbagi Kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbagi Kasih. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 Juni 2015
Kamis, 13 Juni 2013
Hadiah Untuk Ayah dan Ibu
Kisah berikut ini sangat menyentuh
perasaan, dikutip dari buku "Gifts From
The Heart for Women" karangan Karen Kingsbury.
Sore itu, ia
bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil mela kukan home run dan mencetak dua single. Ia pun
berhasil menangkap bola yang sedang
mela yang sehingga membuat timnya
berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pela tih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah
melihat Luke bermain sebaik itu.
Refleksi Diri :
Kita dapat belajar untuk memiliki hati seperti Luke yang masih berusia 7 tahun. Betapa ia mencintai kedua orangtuanya, meski ia tidak pernah mengenal dengan baik ayahnya yang sudah meninggal sejak ia masih kecil. Ia ingin mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orangtua yang dicintainya.
Di sebuah
kota di California , tinggal seorang anak
la ki-laki berusia tujuh tahun yang
bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di
kotanya yang bernama Little League.
Luke
bukanla h seorang pemain yang hebat.
Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain
cadangan. Akan tetapi, ibunya sela lu
hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke
dapat memukul bola maupun
tidak.
Kehidupan
Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya
saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setela h pernikahan berjala n seperti cerita dala m buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya
berla ngsung sampai pada musim dingin
saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jala n yang berla pis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang
ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berla wanan. Saat itu, ia dala m perjala nan pula ng dari pekerjaan paruh waktu yang biasa
dila kukannya pada mala m hari.
"Aku tidak akan menikah la gi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang
dapat mencintaiku seperti dia".
"Kau tidak
perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Wanita tua itu, Ibu Sherri, adala h seorang janda dan sela lu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri
merasa nyaman.
Inilah nasihat ibunya kepada Sherri, "Dala m hidup ini, ada
seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya
dan tidak ingin terpisahkan untuk sela ma-la manya. Namun jika sala h satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang
ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari
penggantinya."
Sherri sangat
bersyukur bahwa ia tidak sendirian.Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya.
Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masala h yg dihadapi anaknya, Sherri sela lu memberikan dukungan sehingga Luke akan
sela lu bersikap optimis.
Setela h Luke kehila ngan seorang ayah, ibunya juga sela lu berusaha menjadi seorang ayah bagi
Luke.
Pertandingan
demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri sela lu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan
dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja.
Pada suatu hari,
tidak seperti biasanya, kali ini Luke datang ke pertandingan seorang diri. Ia segera menghampiri pelatihnya dan berkata, "Pela tih, bisakah aku bermain dala m pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting
bagiku. Aku mohon ...."
Pela tih
mempertimbangkan keinginan Luke. Dalam beberapa latihan, Luke masih kurang dapat bekerja sama antar
pemain. Namun dala m pertandingan
sebelumnya, Luke berhasil memukul bola
dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya
bola .
Tetapi dalam beberapa latihan terakhir ini Luke tampak berlatih ekstra keras. Pela tih kagum tentang
kesabaran dan sportivitas Luke.
Akhirnya pelatih memutuskan mengiyakan permintaan Luke.
"Tentu, kamu dapat bermain hari ini," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. "Sekarang,la kukan
pemanasan dahulu !"
"Tentu, kamu dapat bermain hari ini," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. "Sekarang,
Hati Luke
bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain.
Sore itu, ia
bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil me
Setela h pertandingan, pela tih menarik Luke ke pinggir la pangan.
"Pertandingan
yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah
melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi
begini?"
Luke tersenyum dan pela tih melihat kedua mata anak itu mula i penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis
tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata "Pela tih, ayahku sudah la ma sekali meninggal dala m sebuah kecela kaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak
dapat berjala n dengan baik, akibat
kecela kaan itu. Minggu
la lu,......Ibuku meninggal." Luke
kembali menangis
.
Kemudian Luke menghapus air matanya, dan mela njutkan ceritanya dengan terbata-bata, "Hari
ini ......., hari ini adala h pertama
kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk
bersama-sama melihatku bermain. Dan tentu saja aku tidak akan mengecewakan
mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak.
Kemudian Luke menghapus air matanya, dan me
Sang
pela tih terhenyak dan tak dapat berkata-kata. Tetapi hatinya berkata bahwa ia
sangat bersyukur sudah membuat keputusan yang tepat,
dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang
pela tih yang berkepribadian sekuat
baja, namun kali ini ia hanya mampu tertegun. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk
menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, "baja" itu pun meleleh. Sang
pela tih tidak mampu menahan
perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang
pela tih, tetapi sebagai seorang
anak.
Sang pela tih sangat
tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dala m hal ini, ia bela jar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak
berusia 7 tahun berusaha mela kukan
yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, wala upun ayah dan ibunya sudah pergi untuk sela manya.
Luke baru saja kehila ngan seorang Ibu yang begitu
mencintainya. Sang pela tih
sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mula i saat itu, ia berusaha mela kukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya,
membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk
mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal
seumur hidupnya.
Refleksi Diri :
Kita dapat belajar untuk memiliki hati seperti Luke yang masih berusia 7 tahun. Betapa ia mencintai kedua orangtuanya, meski ia tidak pernah mengenal dengan baik ayahnya yang sudah meninggal sejak ia masih kecil. Ia ingin mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orangtua yang dicintainya.
Banyak cara yg bisa kita
la kukan untuk memberikan yang terbaik bagi ayah dan ibu, mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk
mereka. Raihla h prestasi dan hadapi
tantangan seberat apapun, mela lui
cara-cara yang jujur untuk membuat mereka bangga terhadap kita. Dan tidak mela kukan perbuatan-perbuatan tak terpuji,
yang membuat mereka malu.
Kepedulian kita pada mereka adala h sala h
satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun
berusaha mela kukan yang terbaik
untuk
membahagiakan ayah dan ibunya.
Kepedulian kita pada mereka ada
membahagiakan ayah dan ibunya.
Bagaimana dengan Anda dan Saya ?
Berapakah
usia Kita saat ini ? Berapa usia orangtua Kita saat ini ?
Apakah Kita masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hila ng untuk
sela manya........?
Berbuatlah sekarang. Jangan tunggu nanti atau besok !!
Apakah Kita masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hi
Berbuatlah sekarang. Jangan tunggu nanti atau besok !!
Rabu, 13 Juni 2012
The Power of Giving
Pada suatu malam, seorang anak berusia10 tahun bernama Clark akan menonton sirkus
bersama ayahnya. Mereka sudah lama merencanakan untuk dapat menonton sirkus tersebut.
Tiba di tempat sirkus, Clark dan ayahnya langsung mengantri tiket. Di depan mereka, ada rombongan keluarga besar, yang terdiri dari bapak, ibu dan delapan orang anaknya. Tampak mereka bahagia sekali, tertawa-tawa. Dari pembicaraan mereka, Clark tahu bahwa bapak dari 8 anak tersebut telah bekerja ekstra keras untuk dapat
mengumpulkan uang agar dapat mengajak anak-anaknyanya menonton sirkus.
Namun saat tiba di depan loket, wajah si Bapak tampak berubah pucat. Ia tidak jadi membayar tiket, kemudian berbalik mendekati istrinya dan berbisik-bisik. Tanpa sengaja, Clark dan ayahnya akhirnya tahu bahwa ternyata uang $40 yang telah dikumpulkan oleh si Bapak dengan susah payah
tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yg total $60.
Suami istri itu lama saling berbisik dengan wajah resah dan bingung. Mereka tidak tahu bagaimana harus mengatakan kepada anak-anaknya bahwa malam itu mereka terpaksa batal menonton sirkus, karena uangnya kurang, sementara kedepalan anak-anaknya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk.
Tiba-tiba ayah Clark menyapa bapak 8 anak tersebut.
"Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku bapak", kata ayah Clark sambil mengulurkan uang lembaran $20 dan mengedipkan sebelah matanya kepada bapak tersebut.
Bapak 8 anak itu takjub dengan apa yang dilakukan oleh ayah Clark. Dengan mata yang berkaca-kaca ia menerima uang itu dan mengucapkan terima kasih kepada ayah Clark dan Clark. Si Bapak mengatakan bahwa betapa sangat berartinya uang $20 itu bagi keluarganya.
Clark dan ayahnya menyaksikan keluarga besar itupun segera masuk ke tempat pertunjukan sirkus dengan gembira. Setelah rombongan itu masuk, Clark dan ayahnya bergegas pulang. Mereka batal menonton sirkus, karena uangnya sudah diberikan kepada keluarga tadi.
Meski tidak jadi menonton sirkus yang sudah diidam-idamkannya, malam itu Clark merasa sangat bahagia, karena ia telah menyaksikan 2 orang BAPAK HEBAT, ayahnya dan si Bapak 8 anak tadi.
---------
Kebahagiaan tidak hanya diperoleh saat menerima pemberian orang lain, tapi juga pada saat kita MAMPU memberi. Ayah Clark telah memberi contoh yang baik kepada anaknya untuk menolong orang lain dengan cara yang sangat halus dan tidak menurunkan harga diri orang yang ditolong.
No body is an island, no body stand alone.
Tidak seorang manusia pun yang dapat hidup sendiri seperti pulau, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan, kita pasti selalu dibutuhkan dan membutuhkan orang lain.
Dunia ini terus berputar.
Ada kalanya kita menolong dan ada kalanya kita memerlukan pertolongan dari orang lain.
Mari kita menolonglah sesama dengan ikhlas dan tidak berharap mendapat imbalan.
Tiba di tempat sirkus, Clark dan ayahnya langsung mengantri tiket. Di depan mereka, ada rombongan keluarga besar, yang terdiri dari bapak, ibu dan delapan orang anaknya. Tampak mereka bahagia sekali, tertawa-tawa. Dari pembicaraan mereka, Clark tahu bahwa bapak dari 8 anak tersebut telah bekerja ekstra keras untuk dapat
mengumpulkan uang agar dapat mengajak anak-anaknyanya menonton sirkus.
Namun saat tiba di depan loket, wajah si Bapak tampak berubah pucat. Ia tidak jadi membayar tiket, kemudian berbalik mendekati istrinya dan berbisik-bisik. Tanpa sengaja, Clark dan ayahnya akhirnya tahu bahwa ternyata uang $40 yang telah dikumpulkan oleh si Bapak dengan susah payah
tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yg total $60.Suami istri itu lama saling berbisik dengan wajah resah dan bingung. Mereka tidak tahu bagaimana harus mengatakan kepada anak-anaknya bahwa malam itu mereka terpaksa batal menonton sirkus, karena uangnya kurang, sementara kedepalan anak-anaknya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk.
Tiba-tiba ayah Clark menyapa bapak 8 anak tersebut.
"Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku bapak", kata ayah Clark sambil mengulurkan uang lembaran $20 dan mengedipkan sebelah matanya kepada bapak tersebut.
Bapak 8 anak itu takjub dengan apa yang dilakukan oleh ayah Clark. Dengan mata yang berkaca-kaca ia menerima uang itu dan mengucapkan terima kasih kepada ayah Clark dan Clark. Si Bapak mengatakan bahwa betapa sangat berartinya uang $20 itu bagi keluarganya.
Clark dan ayahnya menyaksikan keluarga besar itupun segera masuk ke tempat pertunjukan sirkus dengan gembira. Setelah rombongan itu masuk, Clark dan ayahnya bergegas pulang. Mereka batal menonton sirkus, karena uangnya sudah diberikan kepada keluarga tadi.
Meski tidak jadi menonton sirkus yang sudah diidam-idamkannya, malam itu Clark merasa sangat bahagia, karena ia telah menyaksikan 2 orang BAPAK HEBAT, ayahnya dan si Bapak 8 anak tadi.
---------
Kebahagiaan tidak hanya diperoleh saat menerima pemberian orang lain, tapi juga pada saat kita MAMPU memberi. Ayah Clark telah memberi contoh yang baik kepada anaknya untuk menolong orang lain dengan cara yang sangat halus dan tidak menurunkan harga diri orang yang ditolong.
No body is an island, no body stand alone.
Tidak seorang manusia pun yang dapat hidup sendiri seperti pulau, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan, kita pasti selalu dibutuhkan dan membutuhkan orang lain.
Dunia ini terus berputar.
Ada kalanya kita menolong dan ada kalanya kita memerlukan pertolongan dari orang lain.
Mari kita menolonglah sesama dengan ikhlas dan tidak berharap mendapat imbalan.
Langganan:
Postingan (Atom)