Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan seorang anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjat hingga ke pucuk pohon apel itu, dan memakan buahnya. Ia juga suka tidur-tiduran di bawah teduhnya daun-daunnya yang rindang. Si Anak Lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari anak lelaki itu datang dengan wajam muram.
"Mari bermain-main lagi denganku,” pohon apel itu mencoba menghibur si anak itu...
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.
”Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel sedih dan berkata. "Engkau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Dengan demikian engkau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kesukaanmu," kata Si Pohon Apel.
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu bergegas mengambil keranjang dan mulai memetik buah apel satu persatu. Setelah terkumpul buah pohon apel itu ia pun pergi dengan penuh sukacita meninggalkan Si Pohon Apel yang kembali sepi dalam kesendiriannya.
Si Anak Lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali bersedih.
Setelah lama tidak pernah datang, pada suatu ketika Si Anak Lelaki yang sudah menjadi laki-laki dewasa datang lagi, dengan wajah muram.
“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu bermain lagi sekarang ,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
"Duh, maaf, aku pun tak memiliki rumah, kata Pohon Apel. Tetapi engkau dapat menebang ranting dan dahanku untuk dijadikan rumah.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu. Setelah terkumpul sesuai dengan kebutuhannya, pulanglah lelaki itu dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang.
Anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, si anak lelaki datang lagi. Pohon apel sangat bersuka cita menyambutnya.
”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.
”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
"Maaf aku tidak memiliki kapal untuk kuberikan padamu,"kata pohon apel itu.
"Tetapi kamu dapat menebang batangku dan engkau dapat menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian anak lelaki yang sudah menjadi tua itu menebang batang pohon apel dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar mengarungi samudera dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Pohon apel kembali tinggal sendiri kesepian dan sedih.
Bertahun-tahun si anak lelaki tidak pernah datang. Hingga pada suatu waktu si anak lelaki kembali. Si pohon apel senang, tetapi segera menjadi sedih karena ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi yang dapat diberikannya kepada anak lelaki itu
"Anakku, aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu,” kata pohon apel.
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tidak memiliki batang dan dahan yang boleh kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu semua,” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi yang dapat aku berikan padamu. Yang tinggal hanyalah akar-akarku yang sudah tua ini” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
”Aku tidak memerlukan apa-apa lagi sekarang. Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu,” demikian anak lelaki itu dengan suara kelelahan.
“Oooh, bagus sekali. Tahukah engkau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu tersenyum sambil menitikkan air mata.
---------------
Refleksi diri :
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketikakita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu. Tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Jika kita masih memiliki orangtua, sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita. Mumpung ada waktu dan ada kesempatan, nyatakanlah dalam kata-kata dan perbuatan yang menunjukkan betapa kita pun mengasihi orangtua kita dan sangat berterimakasih kepada mereka.
----------------
Pohon apel itu pun dapat pula diibaratkan sebagai Tuhan.
Acapkali kita meminta kepada Tuhan ketika kita merasa kesulitan atau menginginkan sesuatu.
Tetapi segera kita meninggalkan Tuhan ketika kita mulai sibuk dengan kehidupan kita di dunia.
Meski kita seringkali meninggalkan Tuhan, tetapi Tuhan tak pernah meninggalkan kita dan selalu ada untuk kita.
Banyak cerita-cerita yang beredar dan sampai padaku. Terkadang aku tak tahu asalnya dari mana dan siapa pengarangnya, tetapi banyak kisah yang bermakna yang sayang bila hanya terlewat begitu saja. Karena itu, kukumpulkan dalam blog ini. Semoga cerita dan kisah di dalam blog ini bisa menjadi berkat buat setiap pembacanya
Senin, 14 Oktober 2013
Senin, 07 Oktober 2013
Si Tukang Kayu
Pemiliki perusahaan merasa sedih kehilangan karyawannya yang baik dan bertanya apakah ia bersedia membangun satu rumah lagi untuknya sebagai permintaan pribadi.
Si Tukang Kayu menyetujui permintaan pemilik perusahaan itu, tetapi karena hatinya sudah ingin segera berhenti bekerja, maka ia tidak mengerjakan proyek itu dengan sungguh-sungguh. Ia mengerjakn dengan asal-asalan dan menggunakan bahan yang sekedarnya saja. Begitulah caranya dalam mengakhiri karirnya.
Akhirnya pekerjaan si Tukang Kayu selesai, dan sang Pemilik datang meninjau rumah itu sambil membawa kunci rumah dan menyerahkannya kepada si Tukang Kayu.
“Ini rumahmu, hadiah dari perusahaan,” sang Pemilik berkata.
Betapa kagetnya si Tukang Kayu. Ia malu sekali. Seandainya saja ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya sendiri, tentulah ia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang ia harus tinggal di rumah yang dibangunnya dengan asal-asalan.
--------------
Refleksi diri
Demikian pula yang sering terjadi pada kehidupan kita. Kita lebih memilih untuk bereaksi terhadap kehidupan dibanding menjalani kehidupan itu sendiri. Tidak jarang kita berkeluh kesah dan bersungut-sungut dengan keadaan yang kita alami. Akhirnya kita akan bertindak ala kadarnya, dan tidak melakukan usaha yang terbaik. Dan kemudian kita terkejut, melihat situasi yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Kita mesti “tinggal” di “rumah” yang berkualitas rendah, padahal itu adalah rumah yang kita bangun sendiri.
Membangun rumah menggambarkan bagaimana kita menjalani kehidupan. Kalau kita membangun rumah dengan sukacita dan antusias, kita akan melakukan yang terbaik untuk menghasilkan yang terbaik. Kita akan memilih “bahan-bahan” yang terbaik dan membangun dengan sungguh-sungguh
Mari berpikir seperti Tukang Kayu yang baik yang akan membangun rumah dengan sungguh-sungguh. Setiap hari ketika kita mengetukkan palu di atas paku, menempatkan papan-papan, dan mendirikan dinding-dinding rumah, mari berpikir bahwa kita sedang membangun rumah kita sendiri. Dengan demikian kita akan melakukanny dengan sebaik-baiknya dan sungguh-sungguh
Kehidupan kita sekarang adalah bagian dari apa yang kita lakukan kemarin, pilihan-pilihan yang sudah kita ambil di masa lalu.
Kehidupan kita esok adalah bagian dari tindakan dan pilihan-pilihan yang kita buat hari ini.
Mari membangun kehidupan kita dengan bijaksana. Hanya satu kali kehidupan ini akan kita bangun di dunia ini. Lakukanlah dengan sungguh-sungguh dengan sepenuh hati.
Disadur dari kisah "The Builder"
Jumat, 13 September 2013
Buku Harian Ayah
Ayah dan ibu Michael sudah menikah 30 tahun lamanya, dan Michael belum pernah melihat mereka bertengkar. Bagi Michael, perkawinan ayah dan ibunya menjadi teladan baginya.
Setelah menikah, Michael dan istrinya sering bertengkar karena hal-hal kecil. Ketika suatu saat ia pulang ke rumah orangtuanya, Michael menuturkan keluhannya pada ayahnya. Ayahnya mendengar dengan baik tanpa berbicara apa-apa. Setelah Michael selesai bercerita, ayahnya bangkit berdiri dan kemudian datang lagi dengan membawa beberapa tumpuk buku-buku, dan diletakkan di meja di depan Michael. Sebagian buku itu sudah berwana kuning, sepertinya sudah lama disimpan.
"Bukalah dan bacalah !" kata ayahnya.
Michael mengambil salah satu dari buku itu dengan penuh rasa ingin tahu. Satu persatu halaman dibukanya. Ia melihat tulisan ayahnya, agak miring dan aneh, ada yang jelas ada juga yang semrawut, bahkan ada juga tulisan yang ditulis dengan tinta yang tebal sampai-sampai menembus beberapa halaman di belakangnya.
Michael membaca isi buku itu satu persatu. Semuanya merupakan catatan-catatan ringan dan sepele.
"Suhu udara berubah menjadi dingin, ia mulai menjawab baju wol untuk anak-anakku."
"Ia membuatkan masakan kesukaanku yang sudah lama kuinginkan."
Ada banyak tulisan sepele lainnya. Semuanya berisi catatan kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, cinta ibu kepada anak-anak dan keluarga.
Dengan berlinang air mata Michael berkata kepada ayahnya, "Kalian berdua selalu penuh cinta. Saya sangat kagum kepada ayah dan ibu."
"Tidak perlu kagum, kamu juga bisa," kata ayahnya
Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun, tidaklah mungkin menghindari pertengkaran. Ibumu kalau kesal, suka cari gara-gara dan sering mengomel melampiaskan kemarahannya. Aku ikut terbawa kesal, tetapi kemudian aku menuliskan apa yang Ibumu sudah lakukan demi rumah tangga ini. Seringkali hatiku penuh amarah saat menuliskannya, sehingga pen yang aku gunakan menembus kertas hingga sobek. Terkadang aku harus berulangkali merobek kertas dan menuliskan kembali. Tetapi aku terus berusaha menuliskan semua kebaikannya. Kalau aku belum bisa menemukan kebaikan ibumu yang harus kutuliskan, aku diam merenung hingga akhirnya emosiku lenyap, yang tinggal adalah kesadaran diriku akan kebaikan hati ibumu.
Michael mendengarkan dengan baik, lalu bertanya," Apakah ibu pernah melihat semua catatan ayah ini ?"
Ayah tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku tentang kebaikanku. Seringkali kami saling bertukar buku dan saling mentertawakannya."
Michael terdiam, dan kemudian sadar akan rahasia pernikahan orangtuanya, "Mencintai itu sangat sederhana, yaitu ingat dan catat semua kebaikan psangan, dan lupakan segala kesalahannya.
Setelah menikah, Michael dan istrinya sering bertengkar karena hal-hal kecil. Ketika suatu saat ia pulang ke rumah orangtuanya, Michael menuturkan keluhannya pada ayahnya. Ayahnya mendengar dengan baik tanpa berbicara apa-apa. Setelah Michael selesai bercerita, ayahnya bangkit berdiri dan kemudian datang lagi dengan membawa beberapa tumpuk buku-buku, dan diletakkan di meja di depan Michael. Sebagian buku itu sudah berwana kuning, sepertinya sudah lama disimpan.
"Bukalah dan bacalah !" kata ayahnya.
Michael mengambil salah satu dari buku itu dengan penuh rasa ingin tahu. Satu persatu halaman dibukanya. Ia melihat tulisan ayahnya, agak miring dan aneh, ada yang jelas ada juga yang semrawut, bahkan ada juga tulisan yang ditulis dengan tinta yang tebal sampai-sampai menembus beberapa halaman di belakangnya.
Michael membaca isi buku itu satu persatu. Semuanya merupakan catatan-catatan ringan dan sepele.
"Suhu udara berubah menjadi dingin, ia mulai menjawab baju wol untuk anak-anakku."
"Ia membuatkan masakan kesukaanku yang sudah lama kuinginkan."
Ada banyak tulisan sepele lainnya. Semuanya berisi catatan kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, cinta ibu kepada anak-anak dan keluarga.
Dengan berlinang air mata Michael berkata kepada ayahnya, "Kalian berdua selalu penuh cinta. Saya sangat kagum kepada ayah dan ibu."
"Tidak perlu kagum, kamu juga bisa," kata ayahnya
Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun, tidaklah mungkin menghindari pertengkaran. Ibumu kalau kesal, suka cari gara-gara dan sering mengomel melampiaskan kemarahannya. Aku ikut terbawa kesal, tetapi kemudian aku menuliskan apa yang Ibumu sudah lakukan demi rumah tangga ini. Seringkali hatiku penuh amarah saat menuliskannya, sehingga pen yang aku gunakan menembus kertas hingga sobek. Terkadang aku harus berulangkali merobek kertas dan menuliskan kembali. Tetapi aku terus berusaha menuliskan semua kebaikannya. Kalau aku belum bisa menemukan kebaikan ibumu yang harus kutuliskan, aku diam merenung hingga akhirnya emosiku lenyap, yang tinggal adalah kesadaran diriku akan kebaikan hati ibumu.
Michael mendengarkan dengan baik, lalu bertanya," Apakah ibu pernah melihat semua catatan ayah ini ?"
Ayah tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku tentang kebaikanku. Seringkali kami saling bertukar buku dan saling mentertawakannya."
Michael terdiam, dan kemudian sadar akan rahasia pernikahan orangtuanya, "Mencintai itu sangat sederhana, yaitu ingat dan catat semua kebaikan psangan, dan lupakan segala kesalahannya.
Kamis, 12 September 2013
Tuhan Menjawab Doa - 2
Tuhan Menjawab Doa Bahkan Sebelum Kita (sempat) Berdoa - 2
Cerita ini adalah cerita untuk peristiwa kedua yang dialami penulis dengan judul yang sama. Cerita ini saya dapatkan dari teman yang mendapatkannya dari temannya yang juga mendapatkannya dari temannya lagi.....
Cerita ini adalah cerita untuk peristiwa kedua yang dialami penulis dengan judul yang sama. Cerita ini saya dapatkan dari teman yang mendapatkannya dari temannya yang juga mendapatkannya dari temannya lagi.....
Beberapa waktu lalu, adik saya terkena usus buntu. Ia sudah merasakan itu sejak dua minggu sebelumnya, namun tidak pernah mengeluhkan tentang sakitnya itu. Hingga pada hari minggu ia menderita kesakitan, dan didiagnosa penyakit maag nya kambuh kembali. Senin esoknya penyakitnya makin parah, dan kami memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit saja.
Mau ke rumah sakit mana, RS A atau RS R ?
Saya memikirkan dua alternatif itu. R lebih dekat ke rumah tapi A memiliki reputasi yang lebih bagus. Saya tidak bisa memilih dan manusia lama saya masih berpikir untuk mengandalkan logika, sampai untunglah saya teringat untuk meminta petunjuk pada Tuhan. Saya tidak masuk ke dalam kamar menutup pintu dan berlutut berdoa, karena itu belum jadi kebiasaan saya, namun saya mengucapkannya dalam hati sambil beraktivitas.. ("Tuhan, bantu saya memilih rumah sakit A atau R?")
Saya bahkan tidak punya gambaran bagaimana Tuhan akan menjawabnya. Yang pasti saya yakin bukanlah berupa suara mengguruh disertai halilintar menyambar, "AAA !!!"
Atau e-mail yang tiba-tiba muncul, atau sms nyasar..
Atau e-mail yang tiba-tiba muncul, atau sms nyasar..
Namun jawaban NYA ternyata cepat, bahkan tidak sampai dalam satu jam. Bagaimana?
Bagaimana Ia menjawab? IA menjawab dengan menanamkan keyakinan penuh pada hati saya untuk memilih rumah sakit R.
Kenapa bukan berupa sesuatu yang ajaib? Kenapa bukan berupa sesuatu yang menakjubkan?
Tapi memang begitulah terkadang Tuhan berbicara, manusiawi dan lembut. Mari kita belajar untuk mendengar suara NYA.
Sore itu saya belajar mendengar suaraNYA. Pilihan yang semula 50% - 50% menjadi 80% - 20%, namun itu sudah cukup untuk saya. Kami pun menunggu suami saya pulang yang akan mengantarkan kami ke rumah sakit R.
Sore itu saya belajar mendengar suaraNYA. Pilihan yang semula 50% - 50% menjadi 80% - 20%, namun itu sudah cukup untuk saya. Kami pun menunggu suami saya pulang yang akan mengantarkan kami ke rumah sakit R.
Setengah delapan, setengah sembilan....suami saya belum datang juga.
Jam enam sore tadi, saat kami berbicara melalui telepon, ia mengatakan sedang dalam perjalanan menuju rumah dosennya. Saya memperkirakan ia tiba di rumah jam tujuh. Tapi sekarang sudah hampir setengah sembilan. Suami saya sudah di akhir skripsi, dan itu berarti pertemuan dengan dosennya tidak mungkin selama itu.
Akhirnya ia tiba juga jam setengah sembilan lebih. Ia bercerita ada dua mahasiswa yang mengambil kelas malam juga, tengah berkonsultasi dengan dosen tersebut, dan mereka kemudian mengobrol tentang hal-hal biasa lama sekali. Saat giliran suami saya, dosen tersebut cuma memerlukan waktu sepuluh menit untuk melakukan ACC dan pertemuan itu berakhir. Tapi suami saya sudah menunggu lebih dari dua jam, yang berarti kepergian kami ke rumah sakit juga tertunda lebih dari dua jam !
Jam enam sore tadi, saat kami berbicara melalui telepon, ia mengatakan sedang dalam perjalanan menuju rumah dosennya. Saya memperkirakan ia tiba di rumah jam tujuh. Tapi sekarang sudah hampir setengah sembilan. Suami saya sudah di akhir skripsi, dan itu berarti pertemuan dengan dosennya tidak mungkin selama itu.
Akhirnya ia tiba juga jam setengah sembilan lebih. Ia bercerita ada dua mahasiswa yang mengambil kelas malam juga, tengah berkonsultasi dengan dosen tersebut, dan mereka kemudian mengobrol tentang hal-hal biasa lama sekali. Saat giliran suami saya, dosen tersebut cuma memerlukan waktu sepuluh menit untuk melakukan ACC dan pertemuan itu berakhir. Tapi suami saya sudah menunggu lebih dari dua jam, yang berarti kepergian kami ke rumah sakit juga tertunda lebih dari dua jam !
Percayakah Anda bahwa IA mengatur segala sesuatu indah pada waktu NYA?
Semula saya tidak terlalu percaya, tapi pengalaman saya membuat saya sekarang percaya.Adik saya sudah sangat kesakitan di rumah. Bergerak sedikit saja ia mengerang dan merintih. Entah kenapa sama sekali tidak terlintas di pikiran saya untuk memanggil taksi, atau meminta bantuan tetangga atau saudara. Adik saya mengatakan ia takut usus buntunya sudah pecah, kalau memang itu usus buntu. Saya mengatakan padanya berdoa saja.
Kami pun tiba di UGD rumah sakit jam setengah sepuluh malam. Dan seperti dugaan saya sebelumnya memang penyakit yang diderita adik saya adalah usus buntu.
“Dan ini harus segera ditangani, ada dokter yang sedang mengoperasi pasien usus buntu juga di atas, Anda mau langsung dioperasi malam ini?” demikian petugas di UGD menyampaikan kepada kami.
“Dan ini harus segera ditangani, ada dokter yang sedang mengoperasi pasien usus buntu juga di atas, Anda mau langsung dioperasi malam ini?” demikian petugas di UGD menyampaikan kepada kami.
Tentu saja, adik saya sudah sangat kesakitan seperti itu. Ibu dan ayah saya mengurus pengambilan sample darah untuk memastikan diagnosa dokter UGD itu. Suami saya menelepon perusahaan asuransi, sementara saya menunggu adik saya di ruang darurat UGD yang dibatasi tirai-tirai.
“Kita berdoa yuk..” aku mengajak.
Doa yang jauh dari sempurna, kami panjatkan malam itu. Kami berdoa agar Tuhan memilihkan dokter untuk kami, agar Tuhan ikut campur tangan dalam operasi itu.
Operasi pun dilakukan. Jam satu malam, dokter keluar dari ruang operasi untuk memperlihatkan usus buntu yang berhasil ia potong.
“Kenapa baru sekarang datang?” dokter itu sedikit marah. “Usus buntunya sudah lama pecah, dan sudah bernanah ke mana-mana, sampai-sampai yang baru kami ambil saja sudah 50 cc!”
Kami terbengong dan ternganga.
Ketika operasi selesai dan dokter itu keluar dengan pakaian biasa, ia berkata adik saya masuk ICU. Meremang rasanya tubuh ini. Saya mengira ini cuma operasi usus buntu biasa, tapi nyatanya adik saya sekarang di ICU dengan tiga selang dipasang dalam perutnya.Kami menunggu mondar-mandir di ICU tengah malam itu, memperhatikan foto-foto para dokter yang ada di rumah sakit itu.
Ternyata, dokter yang melakukan operasi tadi, yang memarahi kami tadi, adalah direktur rumah sakit ini ! Dokter itu mempunyai deretan gelar yang banyak sekali di belakang namanya. Ia orang yang pintar sekali yang bahkan pernah melakukan operasi dengan dokter asing di luar negeri. Dan kami bahkan sebelumnya tidak tahu namanya, kami bahkan tidak pernah meminta ingin dioperasi oleh dokter itu.
“Oh ya, ia dokter terkenal..” tante saya mengatakannya pada saat ia tahu siapa yang melakukan operasi itu.
“Oh ya, ia biasanya praktek setelah jam sembilan malam..” om saya mengatakannya pada saat ia tahu siapa yang melakukan operasi itu.
Apakah Anda merinding? Saya juga.
Tuhan telah menjawab doa bahkan jauh sebelum doa itu diucapkan naik ke hadirat Nya. Ia sudah menyediakan jauh sebelum segala peristiwa terjadi. Percakapan dua mahasiswa kelas malam itu dengan dosen, yang cuma berbicara tentang basa-basi. Apakah itu ada tujuan Nya? Oh ya. Menurut Anda, kalau suami saya tiba jam tujuh dan kami sampai rumah sakit lebih awal, apakah mungkin dokter yang melakukan operasi adalah dokter lain, yang mungkin saja terkejut dengan kondisi adik saya yang usus buntunya sudah pecah dan nanah mengalir ke mana-mana ? Adik saya bisa saja meninggal.
Anda tahu ucapan direktur rumah sakit itu pada siang hari setelah adik saya sadar di ICU? Ia bilang, “..kamu ini paling menyusahkan operasi !”
Seorang direktur rumah sakit besar dengan deretan gelar di belakangnya, dan pernah melakukan operasi dengan dokter asing di luar negeri mengatakan itu operasi yang sulit!
Bukankah pekerjaan Tuhan sangat luar biasa?
Pada saat saya bertanya pada Nya, rumah sakit A atau R, ya Tuhan? Ia menjawab, R saja, Aku memilihkan yang terbaik untukmu. Kusediakan ia di sana, sedang melakukan operasi usus buntu juga, karena cuma ia yang bisa melakukan operasi yang sulit ini. Tapi jangan datang terlalu cepat, nanti kau diberikan pada dokter lain. Datanglah tepat pada waktu Ku. Segala sesuatu indah pada waktu Ku.
Dan malam itu di UGD, saya berdoa dengan adik saya, pilihkan dokter untuk kami, Tuhan, campur tangan dalam operasi ini, ya Tuhan.
Anda tahu, saya membayangkan saat itu Tuhan tersenyum.
"Anakku, Aku sudah memilihkan dokter untukmu jauh sebelum kau meminta padaKu, Aku sudah turut campur dalam segala sesuatunya untuk mengantarmu tepat pada waktu Ku.
Ya. Ia menjawab doa, bahkan sebelum kita (sempat) berdoa.
Rabu, 11 September 2013
Makian dan Pujian - Pohon yg kehilangan rohnya

Ada satu kebiasaan unik yang ditemui pada penduduk asli yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Penduduk asli yang tinggal di
Untuk apa ?
Kebiasaan ini dilakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.
Tujuannya supaya pohon itu segera mati.
Caranya ?
Beberapa penduduk yang kuat dan berani memanjat hingga ke
atas pohon itu. Ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan
penduduk yang ada di bawah pohon, mereka bersama-sama berteriak sekuat-kuatnya kepada
pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam dalam sehari. Hal ini dilakukan terus menerus selama kurang lebih empat puluh
hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga akan mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.
Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk asli ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.
Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Hal ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Bahwa setiap kali kita meneriaki makhluk hidup, maka berarti kita sedang mematikan rohnya.
Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda ?
"Ayo cepat !"
"Dasar lelet !"
"Bego banget sih !"
"Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan?"
"Berisik !"
Pernahkan Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati ?
"Saya menyesal menikah dengan orang seperti kamu !"
"Kurang ajar !"
"Bodoh, perempuan kampungan !"
Jika Anda seorang guru, pernahkah Anda memaki anak didik ?
"Tolol ! Soal mudah begitu saja tidak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter ?"
"Dasar anak nakal !"
Jika Anda seorang atasan, pernahkah Anda berteriak kepada bawahan saat merasa kesal ?
"Karyawan seperti kamu banyak di luar sana. Kalau resign, ada 1000 orang yang antri mengisi jabatanmu !"
"Kerja begini saja tidak becus ? Rugi saya menggaji kamu?
Ada banyak perkataan makian yang dapat kita lontarkan.
Ingatlah !
Dari kebiasaan penduduk Solomon kita belajar bahwa setiap kali kita berteriak memaki seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka dan sebagainya,maka berarti kita sedang membunuh orang tersebut perlahan-lahan. Kita sedang mematikan roh orang tersebut.
Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan yang kita keluarkan karena emosi kita, perlahan-lahan pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.
Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan.
Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan ? Tujuannya supaya orang yang jauh itu mendengar. Kalau kita berteriak pada orang yang jaraknya dekat, orang tersebut akan menjadi marah dan akan membalas berteriak. Teriakan itu membuat hubungan kita yang dekat menjadi jauh. Tanpa sadar akhirnya kita pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi hanya karena perasaan-perasaan dendam,benci atau kemarahan yang kita miliki.
Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.
Jadi mulai sekarang ingatlah selalu.
Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan.
Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.
Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.
Damai di hati, damai di bumi.
Tuhan Menjawab Doa - 1
Tuhan Menjawab Doa Bahkan Sebelum Kita (sempat) Berdoa - 1
Dikutip dari kisah seseorang yang saya dapat dari seseorang yang diperolehnya dari seseorang lainnya.......
Dikutip dari kisah seseorang yang saya dapat dari seseorang yang diperolehnya dari seseorang lainnya.......
Senja
itu hujan rintik-rintik membuat jalanan licin. Ayah saya berusia limapuluh
sembilan tahun namun masih kuat mengendarai motornya, dan senja itu ia
membonceng saya. Rumah saya terletak di pinggiran Bandung dengan jalanan sulit
meliputi dua tanjakan curam, yang selama sepuluh tahun terakhir ini tidak
menawarkan masalah apa-apa pada ayah saya, sampai senja
itu.
Entah karena ban
motornya yang gundul, entah karena jalan licin yang baru terguyur hujan, yang
pasti di tikungan kedua, ayah saya kehilangan kendali akan motornya, dan motor
itu jatuh ke arah kanan.
Saya bukan perempuan
yang bisa bereaksi cepat jika ada sesuatu yang terjadi. Pada saat kedua anjing
saya berkelahi dan yang satu mencakar bola mata yang lain (sampai tergantung
keluar seperti film kartun), saya cuma bisa menangis melihatnya sementara suami
saya langsung menelepon dokter hewan kami. Saya juga tidak pernah berlatih
karate, dan terus terang bukan penggemar olahraga, sehingga sampai saat ini saya
masih terheran-heran apa yang menyebabkan saya bisa bereaksi begitu cepat,
tangkas, dan tepat.
Pada saat motor ayah
saya oleng ke kanan (saya menggunakan rok sehingga posisi duduk saya miring),
ayah saya terkena akibat terlempar ke kiri, tapi dengan posisi seperti harimau
mengaum dengan kedua tangannya terangkat ke atas. Ia tidak bisa menahan
gravitasi bumi yang menariknya dan didepannya adalah pohon tinggi serta benteng
rumah orang. Tidak ada alternatif yang lain. Entah keningnya akan menghantam
pohon, atau dinding. Tinggal pilih saja.
Ayah saya punya sejarah
stroke dua kali. Jika kepalanya terbentur keras seperti itu saya bahkan tidak
berani membayangkan apa yang akan terjadi. Dan kejadian itu berjalan sangat
cepat dalam hitungan tiga sampai lima detik.
Anehnya, bahkan sampai
saat ini, saya masih bisa melihat kejadian itu di depan mata saya, karena saya
menyaksikannya dalam adegan slow motion, benar, seperti ada remote kehidupan
yang tombol slow motion nya ditekan. Saya masih bisa mengingat gerakan ayah saya
yang seperti harimau mengaum siap menerkam pohon atau benteng rumah orang di
depannya.
Dan saya, perempuan yang
tidak pernah bereaksi cepat kecuali jika adegan hidup adalah rutinitas yang
selalu berulang setiap hari, melompat turun dari motor yang oleng ke kanan, dan
dengan gagah berani (sambil menyandang tas berat di bahu kanan), mencengkeram
jaket ayah saya yang tebal, dan entah kenapa, punya kekuatan untuk menarik ayah
saya sehingga tidak jadi menerkam pohon di depannya.
Cuma tiga sampai lima
detik.
Tak ada waktu untuk
berpikir. Tak ada waktu untuk berdoa. Tak ada waktu bahkan untuk memanggil nama
Tuhan sekalipun. Secepat kedipan mata, bahkan saya pun tidak terpikir untuk
melakukan hal itu. Tubuh saya yang melakukannya. Reflek saya yang melakukannya.
Reflek? Yang benar saja. Handphone yang meluncur jatuh dari genggaman tangan
saya saja, saya tidak mampu menangkapnya. Dalam keadaan nyaman di depan televisi
menggenggam cangkir kopi panas saja, kopi saya tumpah tanpa ada yang
menyenggolnya. Reflek?
Senja
itu saya belajar bahwa Tuhan, penguasa semesta alam dengan galaksi besar tidak
terhitung banyaknya, masih bisa memperhatikan seseorang (dua orang) yang berada
di galaksi Bima Sakti, di planet bumi, di benua Asia, di negara Indonesia, di
kota Bandung, di pinggiran jalan basah setengah kilometer dari rumah saya. Ia
masih sempat menolong dengan menggerakkan tangan saya untuk menarik kembali ayah
saya yang sedang terjun bebas ke sebuah batang pohon. Padahal, benar, saya
bahkan tidak sempat memanggil nama Nya, apalagi berdoa melipat
tangan.
Kamis, 13 Juni 2013
Hadiah Untuk Ayah dan Ibu
Kisah berikut ini sangat menyentuh
perasaan, dikutip dari buku "Gifts From
The Heart for Women" karangan Karen Kingsbury.
Sore itu, ia
bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil mela kukan home run dan mencetak dua single. Ia pun
berhasil menangkap bola yang sedang
mela yang sehingga membuat timnya
berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pela tih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah
melihat Luke bermain sebaik itu.
Refleksi Diri :
Kita dapat belajar untuk memiliki hati seperti Luke yang masih berusia 7 tahun. Betapa ia mencintai kedua orangtuanya, meski ia tidak pernah mengenal dengan baik ayahnya yang sudah meninggal sejak ia masih kecil. Ia ingin mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orangtua yang dicintainya.
Di sebuah
kota di California , tinggal seorang anak
la ki-laki berusia tujuh tahun yang
bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di
kotanya yang bernama Little League.
Luke
bukanla h seorang pemain yang hebat.
Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain
cadangan. Akan tetapi, ibunya sela lu
hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke
dapat memukul bola maupun
tidak.
Kehidupan
Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya
saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setela h pernikahan berjala n seperti cerita dala m buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya
berla ngsung sampai pada musim dingin
saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jala n yang berla pis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang
ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berla wanan. Saat itu, ia dala m perjala nan pula ng dari pekerjaan paruh waktu yang biasa
dila kukannya pada mala m hari.
"Aku tidak akan menikah la gi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang
dapat mencintaiku seperti dia".
"Kau tidak
perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Wanita tua itu, Ibu Sherri, adala h seorang janda dan sela lu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri
merasa nyaman.
Inilah nasihat ibunya kepada Sherri, "Dala m hidup ini, ada
seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya
dan tidak ingin terpisahkan untuk sela ma-la manya. Namun jika sala h satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang
ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari
penggantinya."
Sherri sangat
bersyukur bahwa ia tidak sendirian.Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya.
Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masala h yg dihadapi anaknya, Sherri sela lu memberikan dukungan sehingga Luke akan
sela lu bersikap optimis.
Setela h Luke kehila ngan seorang ayah, ibunya juga sela lu berusaha menjadi seorang ayah bagi
Luke.
Pertandingan
demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri sela lu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan
dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja.
Pada suatu hari,
tidak seperti biasanya, kali ini Luke datang ke pertandingan seorang diri. Ia segera menghampiri pelatihnya dan berkata, "Pela tih, bisakah aku bermain dala m pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting
bagiku. Aku mohon ...."
Pela tih
mempertimbangkan keinginan Luke. Dalam beberapa latihan, Luke masih kurang dapat bekerja sama antar
pemain. Namun dala m pertandingan
sebelumnya, Luke berhasil memukul bola
dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya
bola .
Tetapi dalam beberapa latihan terakhir ini Luke tampak berlatih ekstra keras. Pela tih kagum tentang
kesabaran dan sportivitas Luke.
Akhirnya pelatih memutuskan mengiyakan permintaan Luke.
"Tentu, kamu dapat bermain hari ini," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. "Sekarang,la kukan
pemanasan dahulu !"
"Tentu, kamu dapat bermain hari ini," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. "Sekarang,
Hati Luke
bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain.
Sore itu, ia
bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil me
Setela h pertandingan, pela tih menarik Luke ke pinggir la pangan.
"Pertandingan
yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah
melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi
begini?"
Luke tersenyum dan pela tih melihat kedua mata anak itu mula i penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis
tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata "Pela tih, ayahku sudah la ma sekali meninggal dala m sebuah kecela kaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak
dapat berjala n dengan baik, akibat
kecela kaan itu. Minggu
la lu,......Ibuku meninggal." Luke
kembali menangis
.
Kemudian Luke menghapus air matanya, dan mela njutkan ceritanya dengan terbata-bata, "Hari
ini ......., hari ini adala h pertama
kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk
bersama-sama melihatku bermain. Dan tentu saja aku tidak akan mengecewakan
mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak.
Kemudian Luke menghapus air matanya, dan me
Sang
pela tih terhenyak dan tak dapat berkata-kata. Tetapi hatinya berkata bahwa ia
sangat bersyukur sudah membuat keputusan yang tepat,
dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang
pela tih yang berkepribadian sekuat
baja, namun kali ini ia hanya mampu tertegun. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk
menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, "baja" itu pun meleleh. Sang
pela tih tidak mampu menahan
perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang
pela tih, tetapi sebagai seorang
anak.
Sang pela tih sangat
tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dala m hal ini, ia bela jar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak
berusia 7 tahun berusaha mela kukan
yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, wala upun ayah dan ibunya sudah pergi untuk sela manya.
Luke baru saja kehila ngan seorang Ibu yang begitu
mencintainya. Sang pela tih
sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mula i saat itu, ia berusaha mela kukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya,
membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk
mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal
seumur hidupnya.
Refleksi Diri :
Kita dapat belajar untuk memiliki hati seperti Luke yang masih berusia 7 tahun. Betapa ia mencintai kedua orangtuanya, meski ia tidak pernah mengenal dengan baik ayahnya yang sudah meninggal sejak ia masih kecil. Ia ingin mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orangtua yang dicintainya.
Banyak cara yg bisa kita
la kukan untuk memberikan yang terbaik bagi ayah dan ibu, mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk
mereka. Raihla h prestasi dan hadapi
tantangan seberat apapun, mela lui
cara-cara yang jujur untuk membuat mereka bangga terhadap kita. Dan tidak mela kukan perbuatan-perbuatan tak terpuji,
yang membuat mereka malu.
Kepedulian kita pada mereka adala h sala h
satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun
berusaha mela kukan yang terbaik
untuk
membahagiakan ayah dan ibunya.
Kepedulian kita pada mereka ada
membahagiakan ayah dan ibunya.
Bagaimana dengan Anda dan Saya ?
Berapakah
usia Kita saat ini ? Berapa usia orangtua Kita saat ini ?
Apakah Kita masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hila ng untuk
sela manya........?
Berbuatlah sekarang. Jangan tunggu nanti atau besok !!
Apakah Kita masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hi
Berbuatlah sekarang. Jangan tunggu nanti atau besok !!
Langganan:
Postingan (Atom)