Kamis, 24 Agustus 2017

Dalam Genggaman Tangan

Cerita dari sumber anonymous. Seorang gadis kecil sedang berjalan-jalan bersama ayahnya. Ketika akan melewati sebuah jembatan di atas sungai yag alirannya sangat deras, sang ayah takut bila putrinya akan terjatuh, maka ia berkata kepada sang putri "Sayang, pegang tangan Papa erat-erat ya, supaya kamu tidak jatuh ke sungai." Gadis kecil berkata, "Jangan, Papa saja yang menggenggam tanganku." "Apa bedanya, sayang ?" tanya sang ayah. "Berbeda sekali, Pa. Kalau aku yang memegang tangan papa, kalau ada sesuatu terjadi padaku, besar sekali kemungkinannya aku akan melepaskan genggamanku. Tetapi kalau Papa yang memegang tanganku, pasti Papa tidak akan membiarkan tanganku terlepas dari genggaman Papa. -------- PERENUNGAN Kehidupan kita penuh dengan banyak tantangan, seperti air yang mengalir dengan deras, sekali kita terjatuh akan terhanyut terbawa arus kehidupan. Ke dalam genggaman tangan siapa kita percayakan kehidupan kita ? DIA, Tuhan yang menciptakan kita, yang memiliki hidup kita adalah "TANGAN" yang seharusnya kita percaya untuk menggenggam tangan kita. DIA tidak akan membiarkan kita terjatuh. Kalau pun kita sampai terjatuh, TANGANNYA akan merengkuh kita kembali sehingga kita tidak terhanyut dalam arus kehidupan

Selasa, 05 April 2016

Paku Yang Tertancap

Ini adalah kisah tentang seorang bapak yang memiliki anak yang memiliki sifat pemarah. Bahkan untuk hal-hal sepele, si anak mudah sekali terpancing amarahnya, tidak memandang tempat, waktu dan kepada setiap orang. Sang anak tidak lagi memiliki teman, tetangga mereka banyak yang mengeluh akan sifat anak tersebut. 

Sang ayah sangat mengkhawatirkan sifat sang anak yang kian hari semakin bertambah mudah marah, dan terus berpikir bagaimana cara mengubah sifat buruk anaknya tersebut. 

Suatu malam, sang ayah berbicara berdua dengan anaknya. Ia meminta anaknya untuk berjanji mau melakukan sesuatu untuknya. Setelah membujuk dan meminta dengan sangat sulit, akhirnya sang anak bersedia mengikuti keinginan sang ayah. 

Inilah permintaan sang ayah : Setiap kali anaknya marah, ia harus mengambil paku dan menancapkannya ke sebuat papan di belakang rumah mereka. 

Keesokan hari, sang anak mulai melakukan permintaan ayahnya. Ia menancapkan paku setiap kali ia marah. Banyak sekali paku yang tertancap. Ayah dan sang anak kaget, menyadari jumlah paku yang tertancap berarti sebegitu seringnya sang anak marah. 


Esok harinya sang anak mencoba menahan kemarahan, tetapi masih belum berkurang. 
Hari demi hari berlalu, sang anak belajar menahan kemarahan untuk dapat mengurangi jumlah paku yang tertancap di papan. Bukan hal yang mudah bagi si anak, tetapi ia berusaha untuk mengurangi jumlah paku yang tertancap. 

Suatu hari, sang anak berhasil menahan amarahnya, hari itu tidak ada satu pun paku yang harus ditancapkan olehnya. Dengan gembira sang anak berlari dan menceritakan hal tersebut kepada ayahnya. Bukannya pujian yang didapat, sang ayah malah memberi satu lagi permintaan. Hampir saja sang anak meledak amarahnya, karena kecewa ayahnya tidak merasa senang. Tetapi ia berhasil menahan amarahnya, karena tidak ingin merusak kegembiraannya karena hari itu tidak ada paku yang ditancapkannya. 

Inilah permintaan kedua sang ayah : Setiap kali sang anak merasa gembira, maka sang anak harus mencabut paku yang ditancapkannya itu. 

Sang anak mulai melakukan permintaan ayahnya. Perlahan-lahan paku-paku yang tadinya tertancap di papan pun dicabuti satu demi satu, seiring dengan kegembiraan dan kebahagiaan yang dirasakan si anak. 

Akhirnya semua paku berhasil dicabut. 

Dengan gembira sang anak menceritakan kepada ayahnya bahwa sudah tidak ada lagi paku yang tertancap di papan. Kali ini ayahnya memeluknya dengan air mata berkaca-kaca, dan berkata kepada sang anak, 

“Masih ingatkah kamu ketika dulu sering marah, berapa banyak paku yang tertancap di papan di belakang rumah kita ?" 

Sang anak mengangguk. 

 "Sekarang paku-paku itu sudah tidak ada lagi pada papan itu, karena kamu tidak lagi marah dan berubah menjadi anak yang gembira. Sekarang, apa yang kamu lihat pada papan itu ?" kata ayahnya meminta anaknya untuk melihat papan yang sudah tidak ada pakunya lagi itu. 

"Banyak lubang bekas paku di papan itu," kata sang anak. 

"Betul, anakku. Ada begitu banyak lubang yang masih tersisa di papan itu, meski pakunya sudah tidak ada lagi. Demikian jugalah yang terjadi ketika kamu marah, kamu melukai hati orang lain. Meski kemudian kamu menyesali perbuatanmu itu dan meminta maaf, bekas luka hati itu tidak akan pernah kamu hapus sepanjang hidupnya. Mungkin luka itu sudah tidak lagi perih, itu tandanya ia memaafkanmu. Tetapi bekasnya tetap tersisa. Karenanya, jagalah kata-katamu, jagalah sikapmu agar tidak melukai perasaan hati orang lain. "


 ----------- 
Aristoteles Quotes : 
Anybody can become angry, that is easy. 
But to be angry to the right person, and to the right degree, at the right time and for the right purpose, and in the right way, that is not in everybody's power and is not easy 

Setiap orang dapat dengan mudah menjadi marah. Tetapi marah kepada orang yang tepat, dengan tingkat kemarahan yang sesuai, pada waktu yang tepat dan dengan tujuan yang benar dan dengan cara yang sesuai, tidak semua orang dapat melakukannya dengan mudah

Jumat, 08 Januari 2016

Salah Sangka

Seorang gadis muda sedang duduk menunggu penerbangannya, di ruang tunggu sebuah bandara yang super sibuk.  Karena harus menunggu berjam-jam, ia memutukan untuk membeli sebuah buku untuk menghabiskan waktunya.  Ia juga membeli sebungkus kue kering. Kemudian ia duduk di sebuah kursi bersandaran tangan di ruang VIP bandara tersebut dan mulai membaca  

Sambil membaca, si gadis mengambil kue yang terletak di sandaran tangan kursi tersebut.  Ketika ia mengambil kue pertama, seorang laki-laki yang duduk di kursi sebelahnya juga turut mengambil.  Si gadis merasa kesal, tetapi tidak berkata apa-apa.  Ia hanya berpikir dalam hatinya, "Lancang benar laki-laki ini.  Tidak sopan, berani sekali mengambil kue milik orang lain tanpa permisi !"

Untuk setiap kue yang diambil gadis itu, laki-laki di sampingnya turut mengambil satu.  Si gadi semakin marah, tetapi tidak berkata apa-apa karena tidak ingin membuat kegaduhan si ruangan tersebut.  

Ketika tinggal satu kue yang tersisa, si gadis berpikir, "Apa yang akan dilakukan laki-laki tidak sopan ini ?"

Laki-laki itu mengambil kue yang tersisa, dan membaginya dua, kemudian memberikannya separuh kepada gadis itu.

"Benar-benar keterlaluan, tidak tahu sopan santun !" 
Dengan marah si gadis menutup bukunya dan segera berdiri.  

Pesawat boarding, si gadis segera membawa barang-barangnya menjauh dari laki-laki itu.  
Sampai di pesawat, ia menyimpan kopernya di tempat penyimpanan dan segera duduk di kursinya. Ia mematikan telepon genggamnya dan memasukkan ke dalam tas.  
Alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat sebungkus kue kering masih rapi tersimpan di dalam tasnya, kemasan masih dalam keadaan tertutup, tidak kurang sedikit pun.  

Betapa malunya gadis itu, ia segera menyadari kesalahannya. Ia lupa kalau ia tidak mengeluarkan dan tidak membuka kue itu sama sekali.  Kue yang ia makan tadi ternyata adalah kue laki-laki yang ia anggap tidak sopan, yang kepadanya sang gadis merasa kesal dan marah.  

Laki-laki tadi membagi kue kepadanya tanpa merasa marah dan kesal.  Beda sekali dengan sang gadis yang merasa marah karena terpaksa harus berbagi.  Tetapi sayangnya si gadis tidak dapat meminta maaf kepada laki-laki itu.  Mereka tidak berada di penerbangan yang sama.

Perenungan....

Terlalu mudah kita berprasangka buruk terhadap seseorang.  Seringkali kita tidak melihat lebih dalam alasan seseorang melakukan sesuatu karena sudah dipengaruhi prasangka buruk itu  

Ada 3 hal yang tidak dapat kembali
1.  Seperti batu yang dilontarkan, kata-kata yang sudah terucap tidak dapat ditarik kembali
2.  Waktu yang sudah berlalu tidak dapat kembali
3.  Kesempatan yang hilang tidak dapat diulang kembali.  Mungkin ada kesempatan-kesempatan lain, tetapi tidak akan persis sama seperti yang sudah hilang

Marilah menggunakan kata-kata dengan baik, karena kata-kata dapat lebih tajam dari pisau yang dapat merobek-robek hati dan perasaan seseorang
Marilah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, bagi keluarga, sahabat, lingkungan dan sekeliling kita.  Supaya waktu yang berlalu tidak sia-sia dan tidak ada penyesalan yang muncul kemudian hari.  
Marilah bijak untuk melihat dan mengangkap kesempatan di depan, karena kita tidak tahu kapan lagi kesempatan baik akan datang, apakah lebih baik atau tidak akan muncul lagi.  

 

 

Sabtu, 12 Desember 2015

Bola Kehidupan

Bryan Dyson, mantan eksekutif Coca Cola pernah menyampaikan pidato yang sangat menarik. 

Pidato Bryan Dyson : -----------------------------------------

Bayangkan hidup seperti pemain akrobat dengan lima bola di udara.  Anda dapat memberi nama kepada bola-bola tersebut dengan sebutan :
* Pekerjaan
* Keluarga
* Kesehatan
* Sahabat
* Semangat

Sebagai pemain akrobat yang baik, Anda harus dapat menjaga semua bola tersebut tetap berada di udara dan jangan sampai ada satu pun yang terjatuh. 
Kalau Anda mengalami situasi yang mengharuskan untuk melepaskan salah satu dari antara lima bola tersebut, maka lepaskanlah bola PEKERJAAN, karena bola itu adalah BOLA KARET.  Pada saat Anda menjatuhkannya, maka suatu saat bola itu akan melambung kembali. 

Akan tetapi, empat bola lainnya, KELUARGA, KESEHATAN, SAHABAT dan SEMANGAT adalah BOLA KACA.  Jika sampai terjatuh, maka akibatnya akan fatal, PECAH. 

Demikianlah pidato Bryan Dyson ........................................................

Bryan Dyson mengajak kita untuk menyeimbangkan kehidupan kita. 
Pada kenyataannya, kita lebih menjaga BOLA KARET (PEKERJAAN) dibanding BOLA KACA.  Kita bahkan mengorbankan KELUARGA, KESEHATAN, SAHABAT dan SEMANGAT demi menyelamatkan PEKERJAAN.

Demi uang, meraih sukses dalam karir, kita menjadi workaholic dan mengabaikan keluarga dan kesehatan.  Kita juga rela menghancurkan hubungan baik dengan sahabat yang telah terbina bertahun-tahun.

Ingatlah, PEKERJAAN yang sempat hilang, akan dapat kita cari lagi bila kita mau berusaha sungguh-sungguh mengupayakannya. Akan tetapi, jika sampai kehilangan, KELUARGA, KESEHATAN, SAHABAT dan SEMANGAT, kita tidak dapat (sangat sulit sekali) untuk mendapatkannya kembali, dan hancurlah kehidupan kita.  

Berani Berubah - Belajar dari Nokia

Pada konperensi pers yang diadakan untuk mengumumkan secara resmi mundurnya Nokia dari panggung bisnis perangkat telekomunikasi dan menyampaikan bahwa Nokia telah diakuisisi Microsof, CEO Nokia saat itu, Jorma Ollila menyampaikan pernyataan terakhirnya, "Kami (Nokia) tidak melakukan sesuatu kesalahan, tetapi saya tidak mengerti mengapa kami (Nokia) kalah."
Ia tidak dapat menahan air matanya. Juga eksekutif Nokia lainnya tidak tahan untuk tidak menitikkan air mata. 

Selama puluhan tahun Nokia berjaya dan menjadi perusahaan yang mengagumkan karena mampu menguasai bisnis perangkat telekomunikasi dunia.  Nokia sudah menorehkan kejayaan dalam sejarah, tetapi mengapa tidak dapat bertahan ?
Nokia mungkin tidak melakukan kesalahan yang membuatnya kalah, tetapi Nokia tidak dapat menyesuaikan terhadap perubahan dunia yang sangat cepat.  Terlena dalam kejayaannya, Nokia tidak belajar dari sekelilingnya.  Pemain-pemain baru masuk dengan menawarkan inovasi-inovasi baru yang segar dan menarik.  Konsumen berubah cara pandang, berubah gaya hidup, berubah kebutuhan. Dunia berubah sangat cepat, sementara Nokia tidak dapat berlari mengejar. Tidak mampu berubah cepat mengikuti tuntutan jaman, akhirnya kehilangan banyak kesempatan.  Kehilangan kesempatan untuk memenangkan hati konsumen, kehilangan kesempatan untuk menghasilkan keuntungan besar, dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk mampu bertahan dalam perang bisnis perangkat telekomunikasi.  Sisa-sisa kejayaan Nokia masih melekat dalam benak generasi lama, sementara generasi muda sekarang ini tidak lagi mengenal Nokia. 

Perenungan........

Setiap orang suka atau tidak, sesungguhnya pasti mengalami perubahan dalam hidupnya.  Dari bayi yang hanya dapat menangis bertumbuh menjadi anak, kemudian mengalami masa pubertas remaja, beranjak dewasa, menikah, memiliki anak, menjadi tua dan akhirnya kembali menghadap Sang Pencipta.  Sesungguhnya Tuhan mengaruniakan kepada setiap orang naluri alamiah dan kemampuan untuk segera beradaptasi terhadap perubahan. Jadi, sesungguhnya tidak alasan bagi kita untuk takut akan perubahan.  

Anak bayi dan anak yang masih kecil cenderung lebih mudah untuk beradaptasi terhadap perubahan karena ia masih lebih mengandalkan naluri alamiahnya.  Semakin bertambah umur, logika dan pikiran membuat orang lebih sulit berubah. 
Terkadang, semakin pintar seseorang semakin sulit untuk berubah, karena semakin banyak yang dipertimbangkan.  Logika berpikir terkadang memunculkan perasaan kuatir dan takut, sehingga enggan berubah karena tidak ingin keluar dari zona nyaman atau tidak berani mengambil resiko yang mungkin akan timbul, 

Berani berubah terkadang sangat dekat sekali dengan nekad.  Tetapi seharusnya tidak demikian.  Berani berubah berarti berani untuk mengambil kesempatan meski ada resiko yang akan timbul.

Berani berubah tidak hanya semata melihat diri sendiri, tetapi juga melihat perkembangan sekitar, sadar lingkungan. 







Jumat, 02 Oktober 2015

Bahagia dalam Kacamata yang Berbeda

Seorang penulis terkenal duduk di ruang kerjanya, ia mengambil pena dan mulai menulis.

"Tahun lalu, saya harus dioperasi untuk mengeluarkan batu empedu. Saya harus terbaring cukup lama di ranjang saya.  Di tahun yang sama saya berusia 60 tahun dan harus keluar dari pekerjaan di perusahaan percetakan yang begitu saya senangi dan sudah saya tekuni selama 30 tahun.  Di tahun yang sama pula saya ditinggalkan ayah yang tercinta.  Dan masih di tahun yang sama, anak saya gagal di ujian akhir kedokteran karena kecelakaan mobil.  Biaya bengkel akibat kerusakan mobil tersebut besar sekali, dan ini adalah bentuk kesialan lainnya di tahun itu."
Di bagian terakhir tulisannya, sang penulis menuliskan kalimat, "Sungguh, tahun lalu merupakan tahun yang sangat buruk dalam kehidupan saya !"

Istri sang penulis masuk ke dalam ruangan dan melihat sang suami sedang duduk termenung dengan wajah yang sangat sedih.  Ia menjadi penasaran dan bertanya dalam hati, ada apakah gerangan yang memberatkan pikiran suaminya.  Dengan perlahan ia menghampiri suaminya dari belakang dan mulai membaca tulisan tersebut.  Kemudian ia mundur dan keluar dari kamar.  

Tidak berapa lama sang istri datang lagi membawa selembar kertas yang berisi tulisan, dan memberikannya kepada suaminya.
Dengan wajah heran, sang suami membaca tulisan istrinya dan bertanya, "Apa ini ?"
Istrinya menjawab, " Baca sajalah dulu."
Sang suami membaca kertas bertuliskan hampir sehalaman penuh.

"Tahun lalu akhirnya saya berhasil menyingkirkan kantong empedu saya yang selama bertahun-tahun membuat perut saya sakit.Tahun lalu saya bersyukur bisa pensiun dengan kondisi yang sehat walafiat.  Sekarang saya bisa menggunakan waktu untuk menulis sesuatu dengan fokus yang lebih baik dan penuh kedamaian.  Pada tahun yang sama pula, ayah saya tercinta yang berusia 95 tahun, tanpa kondisi kritis menghadap Sang Pencipta. Dan masih di tahun yang sama, Tuhan memberkati anak saya dengan hidup baru. Mobil yang ia kendarai memang rusak berat akibat kecelakaan tersebut, tetapi anak saya selamat tanpa cacat sedikitpun."
Pada kalimat terakhir istri sang penulis menuliskan, "Tahun lalu adalah tahun dengan berkat Tuhan yang luar biasa dan kami bisa melaluinya dengan baik dan rasa takjub."


Sang penulis tersenyum memandang istrinya sambil berkaca-kaca.  Di dadanya mengalir rasa hangat dan penuh syukur.

Refleksi diri : 

Dalam kehidupan kita, ada banyak sekali keinginan, cita-cita dan harapan.  Ketika kemudian yang kita alami tidak seperti yang kita inginkan, impikan dan harapkan, kita menjadi kecewa dan merasa tidak beruntung, menderita dan merasa mengalami hal yang buruk.  

Padahal, bila kita memandang hidup dengan rasa syukur, semuanya akan terasa indah dan luar biasa.  
Dipan yang keras pun dapat membuat tidur nyenyak seperti tidur di 'spring bed' yang empuk
Makan hanya dengan nasi putih dan kecap tetapi dapat disantap dengan lahap.  
Bekerja dengan berkeringat dan berjerih lelah dapat memberi kepuasan.  

Setiap hari adalah hari yang baik
Setiap saat adalah saat yang indah.  
Berjalan, duduk dan berbaring adalah kebahagiaan hidup.
Kesulitan sebesar apa pun akan terasa wajar bagi jiwa yang penuh rasa syukur
Karena bukan kebahagiaan yang menjadikan kita bersyukur, tetapi rasa syukurlah yang membuat kita bahagia.
Jiwa yang pernuh rasa syukur akan berbahagia, bahkan di atas masalah

Jika tidak mampu bersyukur, semua yang baik dan indah menjadi buruk dan menyakitkan
Kemana pun kita pergi, terasa seperti penuh penderitaan
Tiada hari tanpa gelisah, tiada hari tanpa kejenuhan
Bukan hidup yang membuat kita jenuh, tetapi ketiadaan rasa syukur yang membuat semuanya terasa buruk dan menjenuhkan
Kesulitan sekecil apa pun akan terasa besar dan membuat kita selalu mengeluh.
Jiwa yang malas tetap tersesat meskipun sudah sampai
Jiwa yang tamak tetap mengeluh di atas kekayaan


 " Be Grateful for What You Have and Stop Complaining"


Kamis, 06 Agustus 2015

Kasih yang Tulus

Kisah ini diceritakan oleh seorang perawat di Rumah Sakit kecil.

Pagi itu klinik sangat sibuk. 
Sekitar pukul 09.30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya untuk menunggu sebentar, karena pagi itu semua dokter masih sibuk.  Mungkin ia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
Ketika menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar ia melirik ke jam tangannya.  Sepertinya ia harus buru-buru.  

Karena merasa kasihan, ketika sudah tidak terlalu sibuk, saya sempatkan untuk memeriksa lukanya dan nampaknya cukup baik dan sudah mengering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, saya putuskan untuk melakukannya sendiri.
 

Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru, Lelaki tua itu menjawab bahwa ia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang selama ini dilakukannya setiap hari.  Ia menceritakan bahwa istrinya sudah lama dirawat di sana karena mengidap penyakit ALZHEIMER.

Lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat ?

Ia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mangenalinya sejak 5 tahun terakhir. 
Staying in Love

Saya sangat terkejut dan berkata, 
“ Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?“

Ia tersenyum sambil tangannya menepuk tangan saya dan berkata, 
"Istri saya memang tidak mengenali saya lagi, tetapi saya masih mengenali dia, kan ?"

Saya tertegun dan merasa terharu. 
Dengan menahan air mata saya menyelesaikan pekerjaan saya sampai kakek itu pergi. 

Kasih yang tulus menerima apa adanya, baik yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi dan yang tidak akan pernah terjadi. 
Kasih yang tulus tidak mencari kepentingan untuk diri sendiri, tidak menyimpan kesalahan orang lain dan sabar menanggung segala sesuatu

Mampukah kita mengasihi dengan tulus tanpa menuntut balasan kembali ?

Kamis, 25 Juni 2015

Doa Anak Kecil

Suatu kali seorang anak bernama Kevin sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Hari itu suasana sungguh meriah karena itu adalah babak final dan hanya 5 orang yang masih bertahan, termasuk Kevin. Sebelum pertandingan dimulai Kevin menundukkan kepala, melipat tangan dan berkomat kamit memanjatkan doa.
Pertandingan dimulai, ternyata mobil balap Kevin yang pertama kali mencapai garis finish. Tentu Kevin girang sekali menjadi juara.

Saat pembagian hadiah, ketua panitia bertanya, “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang bukan?” 
Kevin menjawab, “Bukan Pak, rasanya tidak adil meminta Tuhan menolongku untuk mengalahkan orang lain. Aku hanya minta pada Tuhan, supaya aku tidak menangis kalau aku kalah.” 

Semua hadirin terdiam mendengar itu. 
Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.
-------
Refleksi Diri :  

Permohonan Kevin ini merupakan doa yang luar biasa. Dia tidak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya, namun ia berdoa agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi dengan batin yang teguh. 

Seringkali kita berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Kita ingin Tuhan menjadikan kita nomor satu, menjadikan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Kita meminta agar Tuhan menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Tidak salah memang, namun bukankah semestinya yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya dan rencana-Nya yang paling sempurna dalam hidup kita? 

Seharusnya kita berdoa minta kekuatan untuk bisa menerima kehendak Tuhan yang sempurna sebagai yang terbaik dalam hidup kita. 

Jumat, 19 Juni 2015

Orang Buta dan Lampunya

Pada suatu malam, seorang buta berjalan di jalan yang gelap.  Ia memegang sebuah lentera di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang tongkat.  

Dua orang anak muda yang melihatnya segera mentertawainya.  Salah seorang dari anak muda itu bertanya sambil menahan tawa, "Buat apa lampu itu, Bapak Tua, engkau kan buta ?" 
"Dasar bodoh," sahut anak muda yang satunya sambil tertawa terbahak-bahak mentertawai si orang buta.

Si orang buta berhenti berjalan dan berkata kepada dua anak muda tadi, "Lampu ini bukan untuk menerangi jalanku, karena dengan lampu ini pun aku tidak melihat apa-apa.  Lampu ini untuk menerangi jalan orang lain agar tidak menabrak aku atau ketika berjalan di dekatku mereka dapat melihat jalan yang dilaluinya dengan sedikit lebih terang."

Kedua anak muda terdiam seketika dan merasa malu.  

--------------

Refleksi diri :
Seringkali kita melakukan sesuatu hanya berfokus pada diri sendiri, sehingga terkadang kita pun berpikir orang lain akan melakukan hal yang sama dengan yang kita pikirkan.  
Sama seperti kedua anak muda tadi, berpikir bahwa si orang buta hanya berpikir untuk dirinya sendiri saja, padahal si orang buta berpikir pada kepentingan orang lain juga.

Kita diingatkan untuk tidak jemu-jemu berbuat baik, karena sesungguhnya di saat kita melakukan sesuatu untuk orang lain, sebenarnya kita juga sedang melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri. Apa yang kita lakukan untuk orang lain, suatu saat pasti akan kembali pada diri kita, karena itu marilah kita tekun dalam berbuat baik.

 




Minggu, 11 Mei 2014

Kepompong dan Kupu-Kupu

Suatu hari seorang anak melintas di kebun belakang rumahnya. Tanpa sengaja ia melihat sebuah kepompong yang menarik perhatiannya. Ia ingin mengambil kepompong itu, tetapi ibunya tidak mengijinkannya. 
"Biarkan saja, nanti kepompong itu akan berubah menjadi kupu-kupu," begitu ibunya berkata.
Kepompong

Anak itu menjadi penasaran, setiap hari saat melintas tempat itu ia sempatkan untuk melihat kepompong itu. 
"Sudah berubah menjadi kupu-kupu kah ? " pikirnya.

Suatu hari ia melihat kepompong itu seperti tersobek.   Sesuatu yang bergerak-gerak seperti hendak keluar dari dalam kepompong itu.  Ia duduk dan mengamati berjam-jam, menyaksikan "sesuatu" yang bergerak itu seperti berjuang untuk keluar dari celah kecil itu.  Lama sekali ia menunggu, ingin tahu apa yang akan keluar dari dalam celah kecil itu. 

"Kasihan sekali "sesuatu" yang bergerak itu sepertinya kepayahan untuk keluar dari celah itu", begitu pikir si anak kecil itu.  Sepertinya tidak ada kemajuan yang berarti, padahal ia sudah lama menunggu di situ. 

 Akhirnya karena tidak juga ada kemajuan, maka si anak kecil mengambil gunting dan perlahan-lahan diguntingnya celah kepompong itu, berharap akan keluarlah dengan segera seekor kupu-kupu yang cantik, seperti kata ibunya. 

Kupu-Kupu Prematur
Namun apa yang terjadi ?
Seekor hewan kecil mirip kupu-kupu, menggeliat-geliat dari dalam kepompong yang sudah longgar.  Tubuhnya besar tetapi sayapnya kecil dan keriput.  Sayapnya yang kecil berusaha digerak-gerakkannya, tetapi tidak dapat terkembang dan hewan kecil itu tidak dapat terbang. 
Terjatuhlah ia ke tanah. 


 Si anak kecil tetap menunggu, melihat hewan kecil mirip kupu-kupu itu menggeliat-geliat.  Ia berharap, sayap kupu-kupu itu akan membesar dan terkembang sempurna.  Akan tetapi, hal itu tidak juga terjadi.  
Hewan kecil mirip kupu-kupu itu tidak pernah menjadi kupu-kupu yang sempurna. Menggerak-gerakkan sayapnya tapi tidak dapat terbang. 

Anak kecil yang lugu, tidak mengerti bahwa perjuangan yang harus dilakukan si ulat untuk dapat keluar dari kepompongnya bukanlah hal yang harus dihindari.  Si ulat harus melalui proses pembentukan yang membutuhkan waktu dan perjuangan untuk mempersiapkan dirinya menjadi seekor kupu-kupu cantik yang dapat bebas terbang mengepakkan sayapnya.  

Anak kecil yang lugu hanya berpikir bahwa ia sedang menolong si ulat kecil dari penderitaan. 

Refleksi diri......

Dalam kehidupan, tak mungkin kita lepas dari penderitaan, kesulitan dan permasalahan hidup.  Seringkali kita berpikir untuk berusaha menghindari atau berharap dapat lari dari semua itu. 

Tuhan mengijinkan semua penderitaan, kesulitan, pencobaan, permasalahan hadir dalam kehidupan kita, bukan karena IA tidak mencintai kita.  IA mengijinkan semua itu terjadi agar kita menjadi lebih kuat, lebih mampu menghadapi dan melewati semua kesulitan itu.
Yang paling penting adalah kita harus mempercayakan hidup kepadaNYA, bahwa IA akan menopang, menolong dan memegang tangan kita melewati semuanya itu.

Tak pernah DIA janji selalu kan panas
Tak pernah DIA janji hanya ada hujan
Tapi DIA janjikan memberi kekuatan
Ketika topan ganas melanda

Sabtu, 26 April 2014

Raja dan Anak Rajawali

Suatu hari seorang Raja mendapatkan hadiah 2 ekor anak rajawali.  Raja senang sekali dan selalu memamerkan anak rajawalinya kepada keluarga, menteri-menteri, tamu-tamu dan siapa saja yang ditemuinya

Lalu sang Raja berpikir, akan bagus sekali jika rajawali ini dilatih untuk terbang tinggi.  Tentulah akan lebih indah lagi.  Kemudian ia memanggil pelatih burung yang tersohor di negerinya untuk melatih kedua anak burung rajawali miliknya itu.

Setelah beberapa bulan, pelatih burung itu melapor kepada Raja.  Seekor rajawali telah terbang tinggi dan melayang-melayang di angkasa dengan indahnya.  Akan tetapi seekor lagi tidak mau beranjak dari pohonnya sejak hari pertama ia tiba.

Raja pun memanggil semua ahli hewan dan para tabib sakti untuk memeriksa rajawali kesayangannya itu. Namun semua usaha sang Raja tidak membuahkan hasil.  Tidak ada seorang pun yang berhasil "menyembuhkan" dan membuat rajawali itu terbang.  Rajawali itu tidak kunjung bergerak dari dahannya.

Suatu hari terbersit sebuah ide dalam benak Raja.  Ia ingin memanggil orang yang biasa "melihat" rajawali.  Setelah bertanya kepada rakyat di negerinya, kemudian ia bertemu dengan seorang petani yang sangat mengenal sifat rajawali .  Sang Raja meminta bantuan petani itu.

Keesokan harinya ketika Raja mengunjungi rajawali ini, ia kaget melihat rajawali kesayangannya itu sudah terbang tinggi.  Dengan penuh penasaran Raja bertanya kepada petani, "Apa yangtelah kamu lakukan sehingga rajawaliku itu mau terbang tinggi ?

Petani menjawab, "Saya hanya memotong cabang pohon yang selama ini dihinggapinya saja yaitu DAHAN yang membuatnya NYAMAN"

Perenungan ......
Kita dilahirkan untuk sukses seperti seekor Rajawali,kita ditakdirkan untuk terbang tinggi. Namun, ketika kita memegang erat ketakutan kita, dan tak mau melepaskan ketakutan itu, maka kita tidak akan beranjak dari posisi itu.  Kita enggan keluar dari zona kenyamanan, takut  tidak mau melepaskannya.  Takut gagal, takut kecewa,takut capek,takut malu dan ketakutan lainnya.

Satu-satunya cara untuk bisa membumbung tinggi adalah keluar dari zona nyaman...!

Tidak ada jalan pintas...
Hanya ada 2 pilihan : tetap bergantung di dahan selamanya atau membumbung ke angkasa...

References :
Pictures : www.scottsquires.com

Minggu, 13 April 2014

The First Step

Cerita ini dapat memotivasi kita untuk berbuat / bergerak / bertindak, tidak menunggu segalanya sempurne terlebih dahulu, baru memulai.

Ada satu cerita tentang guru seni yang melakukan percobaan dalam pemberian nilai kepada dua kelompok muridnya. Guru keramik mengumumkan bahwa ia akan membagi kelasnya menjadi dua kelompok dengan tugas membuat pot. Kelompok pertama akan diberikan nilai berdasarkan jumlah (kuantitas) pot yang mereka hasilkan. Sedangkan kelompok kedua akan diberikan nilai berdasarkan mutu (kualitas) pot yang mereka hasilkan.

Prosedur penilaiannya sederhana.
Di hari terakhir mata pelajarannya, si guru akan membawa timbangan untuk mengukur berat dan menghitung jumlah pot yang dihasilkan oleh kelompok pertama (kuantitas). Ada beberapa rentang berat yang setara dengan nilai A, B, C, dst.Sedangkan penilaian terhadap kelompok kedua (kualitas) didasarkan pada mutu setiap pot yang terbaik, jika bisa sempurna, untuk mendapatkan nilai A. Jika ada kekurangan maka akan mendapat nilai B atau lebih rendah lagi.
Mata pelajaran berakhir, dan tiba saatnya untuk memberikan penilaian terhadap hasil yang diperoleh oleh kedua kelompok.  Lucunya, didapati kenyataan yang sangat menarik.

Kelompok kuantitas tidak hanya menghasilkan cukup banyak pot tetapi juga mutu terbaik ada di karya mereka.
Ternyata, sementara kelompok kuantitas sibuk bekerja untuk menghasilkan pot sebanyak-banyaknya, mereka juga terus belajar dari kekeliruan mereka, terus menerus melakukan perbaikan cara kerja mereka.  Dan karena semakin banyak pot yang dihasilkan, mereka juga semakin terlatih untuk menghasilkan pot dengan cepat dan baik (skill meningkat)

Kelompok kualitas lebih sibuk duduk berteori, berdiskusi, dan berdebat tentang apa itu pot yang sempurna, bagaimana cara membuatnya pot yang berkualitas, dan lainnya.  Akhirnya, alih-alih bisa menghasilkan pot terbaik, kelompok kualitas malah tidak menghasilkan apa-apa, bahkan mereka belum memulai merealisasikan pot mereka, hanya sibuk berteori.

Perenungan ........

Tidak perlu dipusingkan siapa diri kita dan peran apa yang kita mainkan dalam kehidupan ini. Yang terpenting adalah tindakan kita akan menghasilkan buah / akibat. Hasil akan kita peroleh dengan berbuat / bergerak / bertindak.

Seringkali kita terlalu tinggi bermimpi, tetapi tidak berani bangun dari tidur kita, dan mulai melangkah untuk merealisasikan agar mimpi menjadi kenyataan.  Seringkali pula kita terlalu sibuk merencanakan, memperbaiki rencana, membuat strategi, tetapi tidak melakukan aksi untuk membuat rencana tidak hanya tinggal rencana. 

Banyak langkah hanya mungkin kita lakukan setelah mengambil langkah pertama.
 
Cerita ini dikutip dari email berantai, yang menurut email tersebut dikutip dari :
'Mulailah Berths'
(by
toni_yoyo@yahoo.com;http://toniyoyo.wordpress.com)

Sumber Gambar : http://www.eattrainbelieve.com

Selasa, 08 April 2014

Kisah Anjing Kecil dan Seribu Cermin

Ada seekor anjing kecil yang selalu bermuka muram sedang berjalan-jalan sambil cemberut.  Tiba-tiba ia melihat sebuah rumah yang pintunya terbuka, dan tertarik untuk masuk ke dalamnya. 

Ternyata di dalam rumah itu terpasang 1000 cermin. 

Betapa kagetnya si anjing kecil ketika memasuki rumah itu, ia melihat ada banyak sekali anjing yang melihatnya dengan ekspresi terkejut. 

Karena merasa terancam, ia pun menyalak ke arah anjing-anjing tersebut. Rupanya anjing-anjing itu membalas menyalak ke arahnya.  Ia tidak tahu bahwa semua anjing itu adalah pantulan dirinya sendiri melalui cermin-cermin di depannya. Karena takut, anjing kecil itu pun lari keluar dari rumah itu.

Di luar rumah anjing yang ketakutan itu bertemu dengan seekor anjing lainnya yang sedang berlari-lari kecil, tersenyum dengan hati gembira.  Anjing kecil yang sedang gembira itu juga tertarik untuk masuk ke rumah itu. 

" Rumah ini sungguh mengerikan ! " kata si anjing yang ketakutan itu.
"O ya, mengapa ?" tanya si anjing kecil yang baru datang.

Si anjing yang pertama tadi bercerita tentang apa yang dialaminya di dalam rumah tadi.  Tetapi ceritanya itu tidak menyurutkan keinginan anjing kecil yang gembira itu untuk mencoba masuk ke dalam rumah yang terbuka itu. 
Anjing kecil berhati riang memasuki rumah dengan gembira.  Di dalam rumah ia melihat banyak sekali anjing-anjing kecil seperti dirinya yang menyambutnya dengan meloncat-loncat kecil dan tersenyum gembira.  Ia pun mengibas-ngibaskan ekor dan melompat dengan riang.

" Wah, menyenangkan sekali di sini ! " kata anjing kecil berhati riang itu.  Apa yang dikatakan anjing tadi sama sekali tidak ditemuinya di dalam rumah itu. 

------------------ Refleksi diri :

Kehidupan ini serupa dengan rumah 1000 cermin itu.  Hidup ini sesungguhnya merefleksikan dari bagaimana cara kita menghadapi kehidupan ini.  Ketika kita berpikir bahwa hidup ini  susah, ada banyak orang jahat yang bersekongkol untu menghancurkan kita, atau pikiran negatif lainnya, maka realita seperti itulah yang akan kita temukan. 

Kalau kita menghadapi kehidupan dengan bersikap positif dan optimis, maka kehidupan ini akan terasa menyenangkan dan banyak hal yang dapat dinikmati dalam hidup ini.

Berhentilah murung, cemberut dan " menyalaki " hal-hal di sekitar kita !

Mari kita memperbaik mental, sikap dan cara pandang kita. 
Rasakanlah sensasi rumah 1000 cermin yang luar biasa dahyatnya ketika kita memberi senyum padanya, 1000 senyuman berbalik untuk kita  ! 

Kamis, 20 Maret 2014

Crab Mentality

Crab mentality adalah suatu istilah yang menggambarkan suatu sifat buruk : bila tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, maka tidak akan membiarkan seseorang pun mendapatkannya ("if I can't have it, neither can you"). 
Istilah ini diambil dari kebiasaan dari sekumpulan kepiting di dalam baskom / wadah. 
Ketika seekor kepiting dari kumpulan itu berusaha keluar, maka kepiting-kepiting lain akan berusaha menarik masuk kembali.

(Reference : Crab mentality : http://en.wikipedia.org/wiki/Crab_mentality)

Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah.  Meskipun ukuranya kecil tetapi rasanya cukup lezat.
Biasanya masyarakat itu mencari kepiting sawah pada malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom / wadah tanpa diikat tanpa kuatir kepiting-kepiting itu akan lari.  Masyarakat sangat mengenali sifat kepiting itu, jika ada seekor kepiting yang berusaha keluar dari dalam baskom itu, teman-temannya akan berusahan menariknya turun agar tidak dapat meloloskan diri.  Padahal sebenarnya, bila kepiting itu dimasukkan ke dalam baskom tersebut hanya sendiri saja, maka kepiting akan dengan mudah naik dan meloloskan dirinya.  Dengan demikian sampai saatnya tiba, kepiting-kepiting itu akan direbus dan menjadi santapan lezat. 

-------Perenungan

Demikian pula dalam kehidupan ini, tanpa kita sadari terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu.  Seharusnya kita bergembira ketika teman atau saudara kita mendapatkan kesuksesan, tetapi kita malah iri hati dan mencurigai bahwa kesuksesan yang diraih diperoleh dengan cara yang tidak benar.  Atau lebih buruk lagi, kita malah berusaha meniupkan cerita-cerita itu menjadi sebuah gosip yang menjadi konsumsi publik. 

Kita tidak menyadari, bahwa dengan menjatuhkan orang lain, sebenarnya pun kita sedang menjatuhkan diri kita sendiri. 







Rabu, 18 Desember 2013

Perdamaian

Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Arun Gandhi, cucu dari Mohandas Karamchan Gandhi atau yang lebih dikenal dengan Mahatma Gandhi.  Saya mencoba menterjemahkannya dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan membuatnya lebih menarik untuk dibaca, tetapi tanpa menghilangkan esensi dari makna yang ingin disampaikan oleh kisah ini yang sudah berlangsung turun-temurun.



Inilah kisah Arun Gandhi……

Dulu, Kakek suka menceritakan kepada kami sebuah cerita kuno tentang seorang raja India yang terobsesi untuk menemukan makna dari kedamaian

Apakah damai itu ?
Bagaimana kita dapat memperolehnya ?
Apa yang harus kita lakukan ketika kita telah menemukan damai itu?

Semua pertanyaan-pertanyaan itu menggangu pikiran sang Raja. 
Kemudian sang Raja menawarkan hadiah yang menarik kepada orang-orang pintar di seluruh penjuru negeri, yang akan diberikan kepada siapa saja yang dapat menjawab semua pertanyaannya tersebut.
 
Berbondong-bondong orang pintar dari seluruh negeri datang mencoba, tetapi belum seorang pun yang berhasil menjawabnya.  Hingga pada suatu waktu, seseorang penasihat raja menyarankan agar raja berkonsultasi kepada seorang bijak yang tinggal tidak jauh dari perbatasan kerajaan. 

“Ia adalah seorang tua yang sangat bijaksana.  Orang lain tidak dapat menjawab pertanyaan raja, tetap ia akan dapat menjawab semua pertanyaan Raja itu”demikian penasihat raja berkata.

Raja pun pergi menemui Orang Bijak tersebut dan menyampaikan semua pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya selama ini.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Orang Bijak itu masuk ke dalam dapurnya dan membawa segenggam biji gandum dan memberikannya kepada raja. 
“Engkau akan menemukan jawabannya di dalam biji gandum ini, “ kata Orang Bijak itu sambil meletakkan biji gandum itu ke telapak tangan sang Raja. 

Meskipun sang Raja masih bingung, tidak mengerti akan maksud si Orang Bijak, tetapi tidak ingin mengakui ketidakpahamaannya.  Raja pulang kembali ke istana dengan membawa biji gandum di dalam tangannya itu.

Sesampainya di istana, sang Raja menempatkan gandum berharga itu di dalam sebuah kotak emas yang kecil, menguncinya dan menempatkan kotak itu di tempat yang aman.   Setiap hari, segera setelah bangun, sang Raja akan membuka kotak tersebut dan melihat biji-biji gandum yang ada di dalamnya.  Ia mencoba mencari jawaban, tetapi tidak berhasil menemukan apa pun.   

Beberapa minggu kemudian, Orang Bijak yang lain lagi melewati tempat itu, berhenti untuk menemui sang Raja. 

Sang Raja bercerita tentang pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya, yang membutuhkan jawaban.  Sang Raja juga bercerita bahwa alih-alih mendapatkan jawaban, malah kepadanya diberikan beberapa butir biji gandum.  Setiap pagi ia mencari jawaban dari biji-biji gandum yang diberikan oleh Orang Bijaksana itu kepadanya, namun tak kunjung ia dapatkan maknanya. 

“Sederhana sekali, Yang Mulia”, kata Orang Bijak tersebut.
“Sama seperti biji gandum ini merupakan makanan bagi tubuh kita, demikian juga kedamaian merupakan makanan bagi jiwa kita.”

“Sekarang, jika Raja menyimpan biji gandum itu tertutup dan terkunci rapat di dalam kotak emas, maka suatu saat akan hancur begitu saja. Biji gandum itu tidak lagi dapat menjalankan fungsinya sebagai makanan, dan tidak dapat bertambah banyak.  Akan tetapi, jika biji gandum itu diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan elemen-elemen seperti cahaya, air, udara, tanah, maka biji gandum akan berkembang dan bertambah banyak, dan suatu saat Raja akan memiliki sebidang ladang gandum yang hasilnya tidak hanya dapat memberi makan Raja seorang, tetapi banyak orang. Inilah arti perdamaian.  Perdamaian tidak hanya dapat memberi makan kepada jiwa kita saja, tetapi juga jiwa banyak orang, dan harus bermultiplikasi dengan adanya interaksi elemen-elemen.”

-----   


 

Senin, 14 Oktober 2013

Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan seorang anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.  Ia senang memanjat hingga ke pucuk pohon apel itu, dan memakan buahnya.  Ia juga suka tidur-tiduran di bawah teduhnya daun-daunnya yang rindang. Si Anak Lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. 

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.


Suatu hari anak lelaki itu datang dengan wajam muram.
"Mari bermain-main lagi denganku,” pohon apel itu mencoba menghibur si anak itu... 
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.
”Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”


Pohon apel sedih dan berkata. "Engkau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Dengan demikian engkau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kesukaanmu," kata Si Pohon Apel.
 
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu bergegas mengambil keranjang dan mulai memetik buah apel satu persatu.  Setelah terkumpul buah pohon apel itu ia pun pergi dengan penuh sukacita meninggalkan Si Pohon Apel yang kembali sepi dalam kesendiriannya.

Si Anak Lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali bersedih.

Setelah lama tidak pernah datang, pada suatu ketika  Si Anak Lelaki yang sudah menjadi laki-laki dewasa datang lagi, dengan wajah muram.

“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. 

“Aku tak punya waktu bermain lagi sekarang ,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” 

"Duh, maaf, aku pun tak memiliki rumah, kata Pohon Apel. Tetapi engkau dapat menebang ranting dan dahanku untuk dijadikan rumah.  

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu. Setelah terkumpul sesuai dengan kebutuhannya, pulanglah lelaki itu dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang.

Anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.


Pada suatu musim panas, si anak lelaki datang lagi.  Pohon apel sangat bersuka cita menyambutnya.
”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.
”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”

"Maaf aku tidak memiliki kapal untuk kuberikan padamu,"kata pohon apel itu.  
"Tetapi kamu dapat menebang batangku dan engkau dapat  menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian anak lelaki yang sudah menjadi tua itu menebang batang pohon apel dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar mengarungi samudera dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Pohon apel kembali tinggal sendiri kesepian dan sedih.

Bertahun-tahun si anak lelaki tidak pernah datang.  Hingga pada suatu waktu si anak lelaki kembali.  Si pohon apel senang, tetapi segera menjadi sedih karena ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi yang dapat diberikannya kepada anak lelaki itu

"Anakku, aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu,” kata pohon apel.
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tidak memiliki batang dan dahan yang boleh kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu semua,” jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi yang dapat aku berikan padamu. Yang tinggal hanyalah akar-akarku yang sudah tua ini” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

”Aku tidak memerlukan apa-apa lagi sekarang.  Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu,” demikian anak lelaki itu dengan suara kelelahan.

“Oooh, bagus sekali. Tahukah engkau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.  Pohon apel itu tersenyum sambil menitikkan air mata.


---------------
Refleksi diri :

Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. 
Ketikakita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. 
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. 

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu.  Tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Jika kita masih memiliki orangtua, sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan 
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita. Mumpung ada waktu dan ada kesempatan, nyatakanlah dalam kata-kata dan perbuatan yang menunjukkan betapa kita pun mengasihi orangtua kita dan sangat berterimakasih kepada mereka.

----------------

Pohon apel itu pun dapat pula diibaratkan sebagai Tuhan.
Acapkali kita meminta kepada Tuhan ketika kita merasa kesulitan atau menginginkan sesuatu.
Tetapi segera kita meninggalkan Tuhan ketika kita mulai sibuk dengan kehidupan kita di dunia.

Meski kita seringkali meninggalkan Tuhan, tetapi Tuhan tak pernah meninggalkan kita dan selalu ada untuk kita.




Senin, 07 Oktober 2013

Si Tukang Kayu


Seorang tukang kayu tua bersiap untuk pensiun. Ia memberitahu pemilik perusahaan kontraktor tempatnya bekerja, mengenai keinginannya untuk meninggalkan pekerjaannya dan menikmati masa tuanya bersama istri dan keluarga besarnya. Ia menyadari akan kehilangan penghasilan bulanannya.  Tetapi ia merasa harus pensiun karena ia merasa sudah sangat lelah.

Pemiliki perusahaan merasa sedih kehilangan karyawannya yang baik dan bertanya apakah ia bersedia membangun satu rumah lagi untuknya sebagai permintaan pribadi. 


Si Tukang Kayu menyetujui permintaan pemilik perusahaan itu, tetapi karena hatinya sudah ingin segera berhenti bekerja, maka ia tidak mengerjakan proyek itu dengan sungguh-sungguh. Ia mengerjakn dengan asal-asalan dan menggunakan bahan yang sekedarnya saja.  Begitulah caranya dalam mengakhiri karirnya.

Akhirnya pekerjaan si Tukang Kayu selesai, dan sang Pemilik  datang meninjau rumah itu sambil membawa kunci rumah dan menyerahkannya kepada si Tukang Kayu.  

“Ini rumahmu, hadiah dari perusahaan,” sang Pemilik berkata.

Betapa kagetnya si Tukang Kayu. Ia malu sekali.  Seandainya saja ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya sendiri, tentulah ia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.  Sekarang ia harus tinggal di rumah yang dibangunnya dengan asal-asalan. 
--------------
Refleksi diri
Demikian pula yang sering terjadi pada kehidupan kita.  Kita lebih memilih untuk bereaksi terhadap kehidupan dibanding menjalani kehidupan itu sendiri.  Tidak jarang kita berkeluh kesah dan bersungut-sungut dengan keadaan yang kita alami.  Akhirnya kita akan bertindak ala kadarnya, dan tidak melakukan usaha yang terbaik. Dan kemudian kita terkejut, melihat situasi yang sebenarnya kita ciptakan sendiri.  Kita mesti “tinggal” di “rumah” yang berkualitas rendah, padahal itu adalah rumah yang kita bangun sendiri.

Membangun rumah menggambarkan bagaimana kita menjalani kehidupan.   Kalau kita membangun rumah dengan sukacita dan antusias, kita akan melakukan yang terbaik untuk menghasilkan yang terbaik.  Kita akan memilih “bahan-bahan” yang terbaik dan membangun dengan sungguh-sungguh

Mari berpikir seperti Tukang Kayu yang baik yang akan membangun rumah dengan sungguh-sungguh.  Setiap hari ketika kita mengetukkan palu di atas paku, menempatkan papan-papan, dan mendirikan dinding-dinding rumah, mari berpikir bahwa kita sedang membangun rumah kita sendiri.  Dengan demikian kita akan melakukanny dengan sebaik-baiknya dan sungguh-sungguh

Kehidupan kita sekarang adalah bagian dari apa yang kita lakukan kemarin, pilihan-pilihan yang sudah kita ambil di masa lalu. 
Kehidupan kita esok adalah bagian dari tindakan dan pilihan-pilihan yang kita buat hari ini. 

Mari membangun kehidupan kita dengan bijaksana. Hanya satu kali kehidupan ini akan kita bangun di dunia ini.  Lakukanlah dengan sungguh-sungguh dengan sepenuh hati.

Disadur dari kisah "The Builder"

Jumat, 13 September 2013

Buku Harian Ayah

Ayah dan ibu Michael sudah menikah 30 tahun lamanya, dan Michael belum pernah melihat mereka bertengkar. Bagi Michael, perkawinan ayah dan ibunya menjadi teladan baginya. 

Setelah menikah, Michael dan istrinya sering bertengkar karena hal-hal kecil.  Ketika suatu saat ia pulang ke rumah orangtuanya, Michael menuturkan keluhannya pada ayahnya.  Ayahnya mendengar dengan baik tanpa berbicara apa-apa.  Setelah Michael selesai bercerita, ayahnya bangkit berdiri dan kemudian datang lagi dengan membawa beberapa tumpuk buku-buku, dan diletakkan di meja di depan Michael. Sebagian buku itu sudah berwana kuning, sepertinya sudah lama disimpan.

"Bukalah dan bacalah !" kata ayahnya.
Michael mengambil salah satu dari buku itu dengan penuh rasa ingin tahu.  Satu persatu halaman dibukanya.  Ia melihat tulisan ayahnya, agak miring dan aneh, ada yang jelas ada juga yang semrawut, bahkan ada juga tulisan yang ditulis dengan tinta yang tebal sampai-sampai menembus beberapa halaman di belakangnya.

Michael membaca isi buku itu satu persatu.  Semuanya merupakan catatan-catatan ringan dan sepele. 

"Suhu udara berubah menjadi dingin, ia mulai menjawab baju wol untuk anak-anakku." 
"Ia membuatkan masakan kesukaanku yang sudah lama kuinginkan."
Ada banyak tulisan sepele lainnya. Semuanya berisi catatan kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, cinta ibu kepada anak-anak dan keluarga.

Dengan berlinang air mata Michael berkata kepada ayahnya, "Kalian berdua selalu penuh cinta.  Saya sangat kagum kepada ayah dan ibu."
"Tidak perlu kagum, kamu juga bisa," kata ayahnya
Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun, tidaklah mungkin menghindari pertengkaran.  Ibumu kalau kesal, suka cari gara-gara dan sering mengomel melampiaskan kemarahannya.  Aku ikut terbawa kesal, tetapi kemudian aku menuliskan apa yang Ibumu sudah lakukan demi rumah tangga ini. Seringkali hatiku penuh amarah saat menuliskannya, sehingga pen yang aku gunakan menembus kertas hingga sobek. Terkadang aku harus berulangkali merobek kertas dan menuliskan kembali.  Tetapi aku terus berusaha menuliskan semua kebaikannya. Kalau aku belum bisa menemukan kebaikan ibumu yang harus kutuliskan, aku diam merenung hingga akhirnya emosiku lenyap, yang tinggal adalah kesadaran diriku akan kebaikan hati ibumu. 

Michael mendengarkan dengan baik, lalu bertanya," Apakah ibu pernah melihat semua catatan ayah ini ?"
Ayah tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku tentang kebaikanku.  Seringkali kami saling bertukar buku dan saling mentertawakannya."

Michael terdiam, dan kemudian sadar akan rahasia pernikahan orangtuanya, "Mencintai itu sangat sederhana, yaitu ingat dan catat semua kebaikan psangan, dan lupakan segala kesalahannya.